Sunday, July 31, 2011

Proses Kreatif Sanggar Seni Lentera Kota Palu

Oge Bin Sone Ltr


Sabtu, 28 Mei 2011 Desa Towale, Donggala.

Eksistensi Sanggar Seni Lentera kini dapat dibuktikan dengan pementasan keliling yang diadakan secara berkesinambungan yang diawali di Desa Towale, Kabupaten Donggala Sabtu (28/5) Malam. Pementasan Teater berbahasa kaili berjudul I Mangge Mpobilisi yang secara etimologis atau asal kata berarti “Mangge” (Paman) yang selalu marah-marah, mendapat sambutan sangat baik dari warga Desa. Ratusan warga memenuhi halaman Sekolah Dasar yang menjadi “panggung” pertunjukkan malam itu. Tidak ada polesan bedak dan baju yang bagus, semua warga menyaksikan pertunjukan dengan kostum apa adanya. Mengenakan sarung, baju yang sedikit robek, bahkan tanpa alas kaki. Antusias warga desa-pun telah terlihat beberapa jam sebelum pementasan dimulai. Anak-anak berkumpul menyaksikan bagaimana para aktor melakukan latihan blocking, ketika aktor mulai proses make up, dan ketika alunan musik etnik dari Pukulan Jembe, petikan kecapi, serta tiupan Mbasi-mbasi membuat mereka bergoyang sembari tertawa. Pertunjukkanpun dimulai. Riuh tepuk tangan penonton menjadi pembuka pementasan. Satu persatu aktor keluar dan memecah tawa warga desa yang beberapa sedang dirundung duka karena baru saja sanak mereka berpulang ke Rahmatullah. Perbedaan bahasa pun tidak mengurangi tawa mereka. Bahkan beberapa orang tak bisa berhenti tertawa menyaksikan pertunjukkan yang berdurasi 45 menit itu. “Tataaaaaaaaaaaaaaaaaa ......” Teriakan terakhir yang diucapkan para aktor menyaksikan kematian Mangge diiringi padamnya lampu menandakan pertunjukkan selesai. Rasa puas terlihat dari raut wajah penonton yang mungkin baru pertama kali menyaksikan pertunjukkan teater. Seluruh team Produksi dari Sanggar Seni Lentera-pun tak kalah puas dengan sambutan Warga Desa Towale yang sungguh sangat luar biasa. Kehadiran Ketua Dewan Kesenian Donggala (DKD) Tanwir An Petalolo pun memberi semangat kepada Sanggar Seni Lentera untuk menampilkan pertunjukkan yang lebih baik lagi ke depannya.


Sabtu, 4 Juni 2011 Balaroa, Palu Barat.

Setelah sukses melakukan pementasan keliling perdana di Desa Towale, Kabupaten Donggala. Sanggar Seni Lentera kembali melanjutkannya di Balaroa, Palu barat untuk memperkenalkan Keluarga “I Mangge Mpobilisi” . Berbeda ketika pentas di Towale, Antusias Warga Balaroa kurang terlihat pada awal persiapan pementasan. Mungkin karena lokasi yang masih di dalam Kota mempengaruhi perilaku warga dan menjadi perbedaan ketika berada di desa Towale dan Balaroa. Pementasan dilakukan di halaman rumah warga yang cukup luas. Banyak kejadian lucu yang terjadi ketika pertunjukkan berlangsung, disalah satu rumah warga yang dijadikan setting rumah Mangge, ternyata ada Bayi yang berumur beberapa bulan tertidur dengan nyenyaknya, bayi itu sesekali terbangun dan menangis mendengar teriakan mangge dan sesekali pula ibu Bayi tersebut harus menenangkan anaknya, ada juga seorang ibu yang terkejut saat melintas di halaman rumah warga yang dijadikan lokasi pertunjukan berjalan tepat depan Mangge yang sedang marah-marah dan membuat penonton tertawa, serta kejutan-kejutan lain yang memberi warna baru terhadap permainan. Tepuk tangan penonton menutup pertunjukkan malam itu. Warga Balaroa menampakkan kepuasan mereka terhadap pertunjukkan I Mangge Mpobilisi. Pemain dan Kru berkemas dan bersiap kembali untuk pementasan keliling selanjutnya. Sanggar Seni Lentera memberikan suasana baru dalam pertunjukkan teater. Dengan melakukan pentas keliling, Sanggar seni Lentera berharap dapat memberikan hiburan terhadap Masyarakat karena baik di Desa Towale maupun di Balaroa sama-sama ..............................ADA TAHLILAN !! :D

Sabtu 11 Juni 2011 Sanggar Seni Lentera bekerjasama dengan DigiFood akan mengadakan Bazar sekaligus pementasan teater berjudul “Le Silence”. Naskah Le Silence sendiri sukses di pentaskan pada tanggal 8 Maret 2011 pada pertunjukkan “Semalam Dua Karya” oleh Sutradara M.Noerdianza. Menampilkan kegelisahan seseorang ketika menunggu, amarah tanpa sebab, serta diam yang membuat kita terbahak. Naskah “Le Silence” diperankan oleh 3 orang Aktor yaitu Farid, Rollis dan Dilla yang memerankan dirinya masing-masing dengan aksen dan dialek yang berbeda. Konsep penggarapan naskah ini berbeda dari pertunjukan sebelumnya, yakni merubah beberapa dialog dikaitkan dengan ruang di mana pertunjukan berlangsung.

2 comments: