Menyikapi tulisan Tasrif dimuat di Radar Sulteng Senin 6 Juni 2011)
M.Noerdianza, S.sn
Kalau mengkritik jangan sembarang cas cis cus di depan pablik, apalagi sampai dimuat di surat kabar harus ada bukti yang konkrit Kanda, siapa bilang DKP tidak ada program kerja, Komite Musik beberapa bulan lalu sudah melaksanakan program kerjanya, tepatnya 20 April 2011 di Taman Budaya, Komite Tari menghadiri pertemuan tari di Solo “Tari Internasional Dance Day 29 April 2011”, Sastra pelauncingan buku, Komite Rupa 11 Juni 2011, sementara Komite Teater akan diadakan Oktober 2011 mendatang. Saya sebagai pribadi sangat berat mengatakan kanda Tasrif sebagai Seniman senior, patut dipertanyakan kesenioritasannya. Berapa karya yang dihasilkannya? Bagaimana bentuk karyanya? Sebaik apa sih karyanya? Sementara banyak generasi yang mempertanyakan Tasrif itu siapa? Mana karya-karya yang dihasilkannya? Bentuk garapan dan ciri khasnya bagaimana sih.? Dari pertanyaan ini saja membuktikan bahwa Tasrif tidak dekat dengan masyarakatnya. Seorang seniman harus dekat dengan masyarakatnya, harus tahu perkembangan seni di Kota Palu. kalau seniman birokrat iya. Sementara, apa kontribusi Tasrif terhadap perkembangan seni di Kota Palu? Tidak jelas...kalaupun ada, garapannya pun amburadul, terbukti pada “Festival Danau Poso 2010”, iseng-iseng saya bertanya pada penari kontingen Palu, “Mba dari sanggar tari mana?” eh.., malah dijawab “maaf mas kita belum punya sanggar saya sebelumnya belum pernah menari” dan ada lagi letupan-letupan dari para penari kontingen kota “Aduh...mas saya gugup baru pertama kali ini tampil”, tidak masalah bagi saya itu hal yang wajar sebagai manusia, malah saya mencoba memberi suport “main yang bagus ya, rileks saja, yakin, jangan lupa smile. Usut demi usut ternyata para penari yang diutus pada “Festival Danau Poso” staf-staf Dinas Pariwisata Kota yang sama sekali belum berpengalaman dibidangnya. Saya berani berkata demikian sebab saya berada dilokasi. Sayang kontingen Palu dibawa binaan Tasrif hanya memalukan Kota Palu. Dinas Pariwisata seharusnya sebagai fasilitator saja bukan para IO (Iven Orgenizer), beri kepercayaan kepada yang lebih berhak dan berpengalaman dibidangnya dan seharusnya ada penyeleksian antar para komunitas, sanggar atau kelompok tari se-Kota Palu, mana yang terbaik dialah yang mewakili kota. Kanda Srif jangan sampai kebohongan-kebohongan, kepalsuan-kepalsuan dalam sebuah karya, kau hadirkan lagi dipablik..bukankah esensi dari kesenian jujur dalam perkataan, ikhlas dalam perbuatan..!! saya malah menaruh curiga kanda harus dibawa ke rumah sakit jangan-jangan ada kelainan jiwa.
Monday, June 6, 2011
Thursday, June 2, 2011
Seni Peran
“Dasar-Dasar Akting”
Moh. Nurdiansyah, S,sn
TAHAPAN PERTAMA
Pengantar Seni “Akting”
Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral, maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater, berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi, pencipta alam dan segala isinya.
Asal Mula Gestur
Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal praktis. Perkembangan manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata) dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi, dan sebagainnya.
Gestur dan Komunikasi
Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda. Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh, bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.
Fungsi Gestur
Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :
Ilustratif atau imitatif
Indikatif
Empatik
Austistik
Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan: “Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau menunjuk jari kita kemuka musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi, secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat, bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan leluasa.
PRAKTEK:
1. Olah Tubuh
Senam
Menari
Yoga
Meditasi
2. Olah Vokal
Teknik melatih rongga mulut
a. Pengucapan lafal yang benar
b. Melatih kelenturan rahang bawah
- Membuka rahang bawah selebar 3 jari
- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri
- Gerakkan rahang bawah ke depan
Melatih kelincahan lidah
a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan
b. Menjulurkan lidah keluar
c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.
Melatih kelenturan otot bibir
a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga menimbulkan bunyi “puuh”.
Resonator (pita suara)
Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh berfungsi sebagai resonator.
a. Rongga mulut
- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah
b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah belakang).
mampu memproduksi suara yang rendah dan berat
Ringga dada sebelah atas
Rongga dada sebelah depan
Rongga dada sebelah tengah
Rongga dada bagian belakang
c. Rongga hidung
- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain: konsonan m, n, ny, ng.
Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator.
* Latihan pernafasan
- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2 ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan manahan nafas).
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n (n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat, sesingkat-singkatnya.
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama. Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.
- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan udara sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk vocal yang lain e, i, o, u.
- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan sehabisnya. Diakhir hembusan sertai
dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.
- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup, hitunglah setehap demi setahap
sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan menghembus nafas, tidak seperti
yang pertama lagi.
- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan kedua belah tangan pelan-pelan secara
berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga pelan-pelan dan berlangsung secara
berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan ketika mengeluarkan nafas, tangan
diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !”
*Latihan Menyanyi
-Belajar menempatkan suara dengan nada
*Mendeklamasi
- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga dengan keras-keras, tanpa emosi apa-
apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi suku kata sehingga terkesan puisi
itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam kehendak.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik tubuh kearah yang berlawanan; dua
orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-
perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.
3. Panca Indra
*Indra Lihat;
- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung lehernya di atas dapur.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil
menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila, ia mungkin pacar, ia mungkin model
yang tengah dilukis oleh pelukis.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya lantas berlari kejalan raya.
* Indra Dengar
- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu meanbrak tiang listrik.
- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena terhanyut di sungai
- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia merasa terasing dan gamang.
- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati merasa plong.
*Indra Cium
- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.
- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan ia duduk menghadapi
hidangan makan siang.
- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum yang sesak.
- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang berkesan dalam dirinya.
- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia tidak suka bau ini.
*Indra Kecap
- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.
- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi menghormati tuan rumah yang
menghidangkannya.
- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.
- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.
- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api kompor,apakah sudah pas bumbu-
bumbunya.
*Indra Rasa
- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia berpenyakit asma.
- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong datang orang yang lebih berhak.
- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat panas.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek minta dibelikan es krim.
Moh. Nurdiansyah, S,sn
TAHAPAN PERTAMA
Pengantar Seni “Akting”
Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral, maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater, berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi, pencipta alam dan segala isinya.
Asal Mula Gestur
Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal praktis. Perkembangan manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata) dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi, dan sebagainnya.
Gestur dan Komunikasi
Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda. Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh, bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.
Fungsi Gestur
Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :
Ilustratif atau imitatif
Indikatif
Empatik
Austistik
Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan: “Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau menunjuk jari kita kemuka musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi, secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat, bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan leluasa.
PRAKTEK:
1. Olah Tubuh
Senam
Menari
Yoga
Meditasi
2. Olah Vokal
Teknik melatih rongga mulut
a. Pengucapan lafal yang benar
b. Melatih kelenturan rahang bawah
- Membuka rahang bawah selebar 3 jari
- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri
- Gerakkan rahang bawah ke depan
Melatih kelincahan lidah
a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan
b. Menjulurkan lidah keluar
c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.
Melatih kelenturan otot bibir
a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga menimbulkan bunyi “puuh”.
Resonator (pita suara)
Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh berfungsi sebagai resonator.
a. Rongga mulut
- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah
b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah belakang).
mampu memproduksi suara yang rendah dan berat
Ringga dada sebelah atas
Rongga dada sebelah depan
Rongga dada sebelah tengah
Rongga dada bagian belakang
c. Rongga hidung
- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain: konsonan m, n, ny, ng.
Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator.
* Latihan pernafasan
- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2 ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan manahan nafas).
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n (n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat, sesingkat-singkatnya.
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama. Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.
- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan udara sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk vocal yang lain e, i, o, u.
- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan sehabisnya. Diakhir hembusan sertai
dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.
- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup, hitunglah setehap demi setahap
sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan menghembus nafas, tidak seperti
yang pertama lagi.
- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan kedua belah tangan pelan-pelan secara
berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga pelan-pelan dan berlangsung secara
berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan ketika mengeluarkan nafas, tangan
diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !”
*Latihan Menyanyi
-Belajar menempatkan suara dengan nada
*Mendeklamasi
- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga dengan keras-keras, tanpa emosi apa-
apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi suku kata sehingga terkesan puisi
itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam kehendak.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik tubuh kearah yang berlawanan; dua
orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-
perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.
3. Panca Indra
*Indra Lihat;
- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung lehernya di atas dapur.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil
menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila, ia mungkin pacar, ia mungkin model
yang tengah dilukis oleh pelukis.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya lantas berlari kejalan raya.
* Indra Dengar
- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu meanbrak tiang listrik.
- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena terhanyut di sungai
- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia merasa terasing dan gamang.
- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati merasa plong.
*Indra Cium
- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.
- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan ia duduk menghadapi
hidangan makan siang.
- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum yang sesak.
- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang berkesan dalam dirinya.
- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia tidak suka bau ini.
*Indra Kecap
- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.
- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi menghormati tuan rumah yang
menghidangkannya.
- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.
- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.
- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api kompor,apakah sudah pas bumbu-
bumbunya.
*Indra Rasa
- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia berpenyakit asma.
- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong datang orang yang lebih berhak.
- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat panas.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek minta dibelikan es krim.
Konsep Penyutradaraan
Konsep
“I mangge Mpobilisi”
Karya Ashar Yotomaruangi Sutradara M.Noerdianza
Nampaknya kehidupan tradisi kita kian rapuh
begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pertunjukan
baik teater, musik, tari, yang mengangkat kebudayaan lokal
dan kurang mendapatkan perhatian
Sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?
Adakah tradisi yang kita agul-agulkan yang selalu membuat diri kita menepuk dada sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai adiluhung
sebagai khasanah kehidupan kita masih berfungsi untuk menahan laju, atau minimal menciptakan suatu cara berpikir kritis, jernih, dan mendalam demi kemajuan seni dan kebudayaan lokal
Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. berangkat dari motto inilah pertunjukan berbahasa kaili akan dipentaskan, sebab bahasa tidak lepas dari ciri, watak, yang menggambarkan kepribadian diri seseorang di mana ia lahir dan dibesarkan. Teater berbahasa kaili tentunya masih begitu asing untuk dipentaskan, mengingat kota Palu tidak hanya didiami suku kaili saja. Hal tersebut bukanlah kendala melainkan motivasi dan tugas kita bersama mengangkat bahasa kaili kepermukaan. Kita harus berani bermimpi, karena dengan mimpi kita akan terus terpacu unuk melakukan berbagai hal (Rusdi Mastura, 2011: 94).
Peristiwa teater selama ini hanya berpusat di kota tanpa melibatkan masyarakan pinggiran kota. Dengan adanya teater berbahasa kaili yang terjun ke desa-desa, kaki-kaki gunung, sudah barang tentu akan lebih mempererat psikologis dan sosiologis dengan masyarakat setempat. Beberapa alasan dan opini di atas yang sebenarnya menjadi kegelisahan, stimulan sekaligus motivasi Sanggar Seni Lentera untuk kembali membuat pementasan. Maka untuk menjawab kerinduan publik teater di Kota Palu, SSL akan muncul dengan produksi teater berbahasa Kaili. SSL kembali menyuguhkan dengan format ”Teater Berbahasa Kaili” dengan konsep ruang pemanggungan out door,
Pertunjukan Teater berbahasa Kaili dengan juduI “I Mangge Pobilisi” karya Ashar Yotomaruangi akan dipentaskan keliling dari kampung ke kampung. Pilihan tempat pementasan Sanggar Seni Lentera out door setting yang digunakan merespon ruang yang ada. Anggaplah ini sama halnya mengunjungi rumah sendiri dan mengakrapinya. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Peristiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan di luar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Profil Singkat Organisasi
Sanggar Seni Lentera
Dengan bermodalkan pengalaman, semangat, kemauan, keberanian dan kemampuan, Musa Abdul Kadir, Husen Abdul Kadir, Petrus. Mendirikan organisasi seni yang diberi nama Sanggar Seni Lentera (SSL). Tepatnya ditahun 1993. Ketiga pendiri menyatukan idiologi merangkum segala unsur seni baik teater, musik dan tari. Pengalaman membentuk pendewasaan diri untuk bepikir, berbuat, dan bertindak dalam mengambil keputusan dengan bijak. Pengalaman pula yang menentukan perbedaan ciri khas yang melahirkan teknik dan gaya pemanggungan. Dari pengalaman inilah lahir pengkayaan seni yang tumbuh dan berkembang di Kota Palu. SSL dengan pengalamannya memberanikan diri mengepakkan sayap mengajarkan pengetahuan seni ke tingkat Sekolah Menengah Atas, antara lain SMKN 3, SMKN 2, SMKN 1, SMAN 3 dan perekrutan anggota baru yang dianggap berkompoten di bidangnya. Kemudian dikukuhkan menjadi anggota SSL, yang nantinya mengajarkan seni di sekolahnya masing-masing. Lahirnya keinginan ini, disebabkan kian maraknya tauran antar sekolah. Maka kami memutuskan untuk terjun langsung di beberapa sekolah yang rawan akan konflik dan mendidik para siswa/siswi mengasa kemampuan daya khayalnya untuk mencipta karya seni. SSL dikenal sebagai dapur seni, yang melahirkan generasi muda yang sebelumnya awam tentang kesenian sampai pada akhirnya mampu untuk mandiri mencari jati diri.
Beberapa repertoar pertunjukan teater (historiografi) yang pernah diproduksi antara lain :
2000 : “AUM” karya Putu Wijya
1999 : “RAJA MAHDIA” karya Irwan Pangeran
2000 : “WARNA-WARNI” karya Irwan Pangeran
2002 : “KEPALA BATU BATU KEPALA” kaya Toto dan Naim, Dj
2002 : “BELENGGU AIR” karya Toto
2003 : ”TOMANURU” karya Ria/Musa
2002 : “TAIGANJA” karya Musa
“SANDO” karya Hidayat Lembang
2001 : ”PRAHARA GERILYA” karya Musa
: ”DOR” karya Putu Wijaya
2010 : “BOS” Karya M. Noerdianza
2010 : “TOPOGENTE” Karya Ashar Yotomaruangi
2011 : “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo
2011 : “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto
2011 : “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi
Latar Belakang pengarang
.??????????
3. Analisis Lakon
Setelah melakukan penggalian latar belakang pengarang ditemukan bahwa naskah drama “Imangge Mpobilisi” ditulis di Palu pada tahun .... Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan di Gedung tertutup Taman Budaya dalam rangka “Technokrat Art Show 2010”, tetapi sangat disayangkan bahasa kaili kehilangan makna dan keunikan pengucapannya karena dibenturkan dengan bahasa Indonesia, sehingga pertunjukan berbahasa kaili kehilangan ruh dan keunikan serta warna dan bentuknya ketika dibenturkan dengan bahasa Indonesia. Patut diketahui bahwa Inti dari segala kemajuan adalah terbangunnya watak. Ini bukan keegoan diri melainkan sebagai penghargaan terhadap leluhur yang telah menelurkan kepada kita dan kita patut mengangkatnya kepermukaan, menjaga serta melestarikannya.
Dari penelitian ini dapat dilacak bahwa naskah drama “I mangge Mpobilisi” gaya penulisannya komedi satir, mengangkat realitas sosial suku Kaili, (aliran realis suryalis) Karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Karya seni bersifat luas, peristiwa dan peran yang dipentaskan harus melambangkan dan “mengandung” unsur universal (sifat umum) dalam metode atau cara individu, yaitu unsur yang khas manusiawi yang seolah-olah berlaku pada segala masa dan segala tempat. Dengan begitu karya seni diharapkan menjadi lambang atau simbol yang maknanya harus dapat ditemukan dan dikenali oleh si penggemar karya seni itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri entah ia dalam posisi sebagai sutradara, pemain, ataupun penonton. Sebelum menganalisis struktur dan tekstur yang terkandung dalam naskah drama “I mangge Mpobilisi” karya Ashar Yotomaruangi.
“I mangge Mpobilisi” Dalam bahasa Kaili I penegasan dia laki-laki, kata Paman dipanggil dengan sebutan Mangge, sementara Mpobilisi, yakni selalu marah. Secara etimologis atau asal kata “I mangge Mpbilisi” yaitu paman yang selalu marah-marah.
Analisis untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik. Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.
Analisis Struktur
Plot/ alur
Alur dalam naskah drama “I mangge mpobilisi” tiga babak Awal,tengah, akhir. Naskah drama karya Ashar Yotomaruangi ini menyinggung realitas sosial masyarakat suku kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah. Sifat dan watak orang-orang Kaili yang keras dan tegas dan sangat disegani warga kampung sekitar, namun sebenarnya dibalik kekerasan dan ketegasannya tersimpan sifat perhatian dan kelembutan yang begitu besar daripada sifat kekerasannya. Lebih parahnya lagi, I mangge tukang tidur, setiap warga yang datang ribut-ribut di saat I mangge tertidur, jangan coba-coba, kau akan dimarahinya. I mangge memiliki seorang anak laki-laki bernama Yojo, yang sedang melakukan studi di Jakarta, di Jakarta Yojo bertemu dengan Enge juga sekampung dengan Yojo. Setelah Yojo dan Enge menyelesaikan studinya di Jakarta, Yojo dan Enge segera pulang ke kampung halaman bersama-sama dan mengajak Enge silaturahmi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, warga kampung menjemput kehadirannya. Tetapi sayang karena merasa gengsi baru pulang dari Ibu Kota Jakarta, Yojo berpura-pura tidak mengenal warga kampung sekitar. Lebih parahnya lagi Yojo dan Enge sudah melupakan adatnya, kehilangan etika berbicara dengan dialeg Jakarta dengan I Mangge dan Ina (istri I mangge). Karena merasa kesal mendengar Yojo berbicara ala Jakarta yang semakin membingungkan I Mangge, akhirnya I Mangge naik pitam, dan memukul Yojo dengan cambuk kuda, karena tidak tahan dengan rasa sakit Yojo langsung refleks memeluk kaki I Mangge sambil memohon ampun dengan bahasa Kaili. Karena takut Enge juga meminta ampun dengan bahasa Kaili. Emosi I mangge mulai redah, dan membujuk Yojo untuk menikah dengan Dei. Tetapi Yojo tidak mau dijodohkan dengan Dei, Yojo tetap berkeras lebih memilih Enge, I mangge kembali marah karena Yojo tidak mendengarkan perintahnya dan mengusir Yojo dari rumahnya..akhirnya Yojo pergi meninggalkan rumahnya dengan tangis kesedihan, baru berapa langkah meninggalkan rumah I mangge terjatuh karena sakit jantung yang dideritanya, Yojo berbalik sambil berlari menghampiri I mangge sambil memeluk I mangge dengan tangisan dan penyesalan yang mendalam.
Karakter
Imangge
Psikologisnya :Tegas dan keras
Sosiologis : Orang terpandang dan disegani dikampungnya, memiliki berhektar tanah, akhirnya jatuh
miskin
Fisiologis : Umur 50 tahun, kekar, berkumis panjang,
Tinana (istri Mangge)
Psikologis : Penyayang, keras,
Sosiologis : Ibu rumah tangga
Fisiologis :Umur 43 tahun, gemuk, kulit saumatanag
Yojo
Psikologis : Penakut dan sombong
Sosiologis : Seorang mahasiswa
Fisiologis : Umur 25 tahun, kukit kuning langsat, rambut hitam lurus, hidung tinggi.
Dei
Psikologis : Penakut
Sosiologis : Kelas menengah, seorang mahasiswa
Fisiologis :Tinggi kurus, Umur 24 tahun, hidung pesek, kulit kuning langsat,rambut lurus panjang.
Tambako1
Tambako 2
Kabilasa 1
Kabilasa 2
Kobilasa 3
Tema
“Akibat derasnya arus globalisasi adat terlupakan”
Analisis Tekstur Lakon
Naskah drama adalah pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir naskah terlebih dahulu memahami tekstur. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.
Dialog
Drama ini memperlihatkan suatu gaya penulisan dengan ungkapan keseharian. Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama. Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah.
Mood
Mood adalah suasana. Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik. Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya. Penghadiran suasana dalam naskah drama “Imangge Mpobilisi” suasana perkampungan menggambarkan aktivitas keseharian warga kampung yang terlihat polos dan jujur bahkan terlihan over akting..
Spektakel
Melalui pencermatan naskah drama “Imangge Mpobilisi” Spektakel terdapat pada Set panggung dan dialeg aktor yang menggunakan bahasa Kaili.
Realis Surealis
Realisme
Realisme dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir. Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran objektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula. Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987). Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan. Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme..
Surealisme
Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an. Surealisme merupakan seni dan penulisan yang paling banyak dikenal. Karya ini memiliki unsur kejutan, barang tak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Karya tersebut merupakan artefak, dan André Breton mengatakan bahwa surealisme berada di atas segala gerakan revolusi. Dari aktivitas Dadaisme, surealisme dibentuk dengan pusat gerakan terpentingnya di Paris. Dari tahun 1920-an aliran ini menyebar ke seluruh dunia. Surealisme memengaruhi film seperti Angel's Egg dan El Topo. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire dalam catatan program yang menjelaskan balet Parade, yang merupakan karya kolaboratif oleh Jean Cocteau, Erik Satie, Pablo Picasso dan Léonide Massine: "Dari persekutuan baru ini, hingga sekarang, perlengkapan dan kostum panggung di satu sisi dan koreografi di sisi lain hanya ada persekutuan pura-pura di antara mereka, terjadi sejenis super-realisme ('sur-réalisme') di Parade, di mana saya melihat titik mula serangkaian manifestasi semangat baru ini.
“I mangge Mpobilisi”
Karya Ashar Yotomaruangi Sutradara M.Noerdianza
Nampaknya kehidupan tradisi kita kian rapuh
begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pertunjukan
baik teater, musik, tari, yang mengangkat kebudayaan lokal
dan kurang mendapatkan perhatian
Sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?
Adakah tradisi yang kita agul-agulkan yang selalu membuat diri kita menepuk dada sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai adiluhung
sebagai khasanah kehidupan kita masih berfungsi untuk menahan laju, atau minimal menciptakan suatu cara berpikir kritis, jernih, dan mendalam demi kemajuan seni dan kebudayaan lokal
Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. berangkat dari motto inilah pertunjukan berbahasa kaili akan dipentaskan, sebab bahasa tidak lepas dari ciri, watak, yang menggambarkan kepribadian diri seseorang di mana ia lahir dan dibesarkan. Teater berbahasa kaili tentunya masih begitu asing untuk dipentaskan, mengingat kota Palu tidak hanya didiami suku kaili saja. Hal tersebut bukanlah kendala melainkan motivasi dan tugas kita bersama mengangkat bahasa kaili kepermukaan. Kita harus berani bermimpi, karena dengan mimpi kita akan terus terpacu unuk melakukan berbagai hal (Rusdi Mastura, 2011: 94).
Peristiwa teater selama ini hanya berpusat di kota tanpa melibatkan masyarakan pinggiran kota. Dengan adanya teater berbahasa kaili yang terjun ke desa-desa, kaki-kaki gunung, sudah barang tentu akan lebih mempererat psikologis dan sosiologis dengan masyarakat setempat. Beberapa alasan dan opini di atas yang sebenarnya menjadi kegelisahan, stimulan sekaligus motivasi Sanggar Seni Lentera untuk kembali membuat pementasan. Maka untuk menjawab kerinduan publik teater di Kota Palu, SSL akan muncul dengan produksi teater berbahasa Kaili. SSL kembali menyuguhkan dengan format ”Teater Berbahasa Kaili” dengan konsep ruang pemanggungan out door,
Pertunjukan Teater berbahasa Kaili dengan juduI “I Mangge Pobilisi” karya Ashar Yotomaruangi akan dipentaskan keliling dari kampung ke kampung. Pilihan tempat pementasan Sanggar Seni Lentera out door setting yang digunakan merespon ruang yang ada. Anggaplah ini sama halnya mengunjungi rumah sendiri dan mengakrapinya. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Peristiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan di luar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Profil Singkat Organisasi
Sanggar Seni Lentera
Dengan bermodalkan pengalaman, semangat, kemauan, keberanian dan kemampuan, Musa Abdul Kadir, Husen Abdul Kadir, Petrus. Mendirikan organisasi seni yang diberi nama Sanggar Seni Lentera (SSL). Tepatnya ditahun 1993. Ketiga pendiri menyatukan idiologi merangkum segala unsur seni baik teater, musik dan tari. Pengalaman membentuk pendewasaan diri untuk bepikir, berbuat, dan bertindak dalam mengambil keputusan dengan bijak. Pengalaman pula yang menentukan perbedaan ciri khas yang melahirkan teknik dan gaya pemanggungan. Dari pengalaman inilah lahir pengkayaan seni yang tumbuh dan berkembang di Kota Palu. SSL dengan pengalamannya memberanikan diri mengepakkan sayap mengajarkan pengetahuan seni ke tingkat Sekolah Menengah Atas, antara lain SMKN 3, SMKN 2, SMKN 1, SMAN 3 dan perekrutan anggota baru yang dianggap berkompoten di bidangnya. Kemudian dikukuhkan menjadi anggota SSL, yang nantinya mengajarkan seni di sekolahnya masing-masing. Lahirnya keinginan ini, disebabkan kian maraknya tauran antar sekolah. Maka kami memutuskan untuk terjun langsung di beberapa sekolah yang rawan akan konflik dan mendidik para siswa/siswi mengasa kemampuan daya khayalnya untuk mencipta karya seni. SSL dikenal sebagai dapur seni, yang melahirkan generasi muda yang sebelumnya awam tentang kesenian sampai pada akhirnya mampu untuk mandiri mencari jati diri.
Beberapa repertoar pertunjukan teater (historiografi) yang pernah diproduksi antara lain :
2000 : “AUM” karya Putu Wijya
1999 : “RAJA MAHDIA” karya Irwan Pangeran
2000 : “WARNA-WARNI” karya Irwan Pangeran
2002 : “KEPALA BATU BATU KEPALA” kaya Toto dan Naim, Dj
2002 : “BELENGGU AIR” karya Toto
2003 : ”TOMANURU” karya Ria/Musa
2002 : “TAIGANJA” karya Musa
“SANDO” karya Hidayat Lembang
2001 : ”PRAHARA GERILYA” karya Musa
: ”DOR” karya Putu Wijaya
2010 : “BOS” Karya M. Noerdianza
2010 : “TOPOGENTE” Karya Ashar Yotomaruangi
2011 : “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo
2011 : “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto
2011 : “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi
Latar Belakang pengarang
.??????????
3. Analisis Lakon
Setelah melakukan penggalian latar belakang pengarang ditemukan bahwa naskah drama “Imangge Mpobilisi” ditulis di Palu pada tahun .... Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan di Gedung tertutup Taman Budaya dalam rangka “Technokrat Art Show 2010”, tetapi sangat disayangkan bahasa kaili kehilangan makna dan keunikan pengucapannya karena dibenturkan dengan bahasa Indonesia, sehingga pertunjukan berbahasa kaili kehilangan ruh dan keunikan serta warna dan bentuknya ketika dibenturkan dengan bahasa Indonesia. Patut diketahui bahwa Inti dari segala kemajuan adalah terbangunnya watak. Ini bukan keegoan diri melainkan sebagai penghargaan terhadap leluhur yang telah menelurkan kepada kita dan kita patut mengangkatnya kepermukaan, menjaga serta melestarikannya.
Dari penelitian ini dapat dilacak bahwa naskah drama “I mangge Mpobilisi” gaya penulisannya komedi satir, mengangkat realitas sosial suku Kaili, (aliran realis suryalis) Karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Karya seni bersifat luas, peristiwa dan peran yang dipentaskan harus melambangkan dan “mengandung” unsur universal (sifat umum) dalam metode atau cara individu, yaitu unsur yang khas manusiawi yang seolah-olah berlaku pada segala masa dan segala tempat. Dengan begitu karya seni diharapkan menjadi lambang atau simbol yang maknanya harus dapat ditemukan dan dikenali oleh si penggemar karya seni itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri entah ia dalam posisi sebagai sutradara, pemain, ataupun penonton. Sebelum menganalisis struktur dan tekstur yang terkandung dalam naskah drama “I mangge Mpobilisi” karya Ashar Yotomaruangi.
“I mangge Mpobilisi” Dalam bahasa Kaili I penegasan dia laki-laki, kata Paman dipanggil dengan sebutan Mangge, sementara Mpobilisi, yakni selalu marah. Secara etimologis atau asal kata “I mangge Mpbilisi” yaitu paman yang selalu marah-marah.
Analisis untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik. Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.
Analisis Struktur
Plot/ alur
Alur dalam naskah drama “I mangge mpobilisi” tiga babak Awal,tengah, akhir. Naskah drama karya Ashar Yotomaruangi ini menyinggung realitas sosial masyarakat suku kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah. Sifat dan watak orang-orang Kaili yang keras dan tegas dan sangat disegani warga kampung sekitar, namun sebenarnya dibalik kekerasan dan ketegasannya tersimpan sifat perhatian dan kelembutan yang begitu besar daripada sifat kekerasannya. Lebih parahnya lagi, I mangge tukang tidur, setiap warga yang datang ribut-ribut di saat I mangge tertidur, jangan coba-coba, kau akan dimarahinya. I mangge memiliki seorang anak laki-laki bernama Yojo, yang sedang melakukan studi di Jakarta, di Jakarta Yojo bertemu dengan Enge juga sekampung dengan Yojo. Setelah Yojo dan Enge menyelesaikan studinya di Jakarta, Yojo dan Enge segera pulang ke kampung halaman bersama-sama dan mengajak Enge silaturahmi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, warga kampung menjemput kehadirannya. Tetapi sayang karena merasa gengsi baru pulang dari Ibu Kota Jakarta, Yojo berpura-pura tidak mengenal warga kampung sekitar. Lebih parahnya lagi Yojo dan Enge sudah melupakan adatnya, kehilangan etika berbicara dengan dialeg Jakarta dengan I Mangge dan Ina (istri I mangge). Karena merasa kesal mendengar Yojo berbicara ala Jakarta yang semakin membingungkan I Mangge, akhirnya I Mangge naik pitam, dan memukul Yojo dengan cambuk kuda, karena tidak tahan dengan rasa sakit Yojo langsung refleks memeluk kaki I Mangge sambil memohon ampun dengan bahasa Kaili. Karena takut Enge juga meminta ampun dengan bahasa Kaili. Emosi I mangge mulai redah, dan membujuk Yojo untuk menikah dengan Dei. Tetapi Yojo tidak mau dijodohkan dengan Dei, Yojo tetap berkeras lebih memilih Enge, I mangge kembali marah karena Yojo tidak mendengarkan perintahnya dan mengusir Yojo dari rumahnya..akhirnya Yojo pergi meninggalkan rumahnya dengan tangis kesedihan, baru berapa langkah meninggalkan rumah I mangge terjatuh karena sakit jantung yang dideritanya, Yojo berbalik sambil berlari menghampiri I mangge sambil memeluk I mangge dengan tangisan dan penyesalan yang mendalam.
Karakter
Imangge
Psikologisnya :Tegas dan keras
Sosiologis : Orang terpandang dan disegani dikampungnya, memiliki berhektar tanah, akhirnya jatuh
miskin
Fisiologis : Umur 50 tahun, kekar, berkumis panjang,
Tinana (istri Mangge)
Psikologis : Penyayang, keras,
Sosiologis : Ibu rumah tangga
Fisiologis :Umur 43 tahun, gemuk, kulit saumatanag
Yojo
Psikologis : Penakut dan sombong
Sosiologis : Seorang mahasiswa
Fisiologis : Umur 25 tahun, kukit kuning langsat, rambut hitam lurus, hidung tinggi.
Dei
Psikologis : Penakut
Sosiologis : Kelas menengah, seorang mahasiswa
Fisiologis :Tinggi kurus, Umur 24 tahun, hidung pesek, kulit kuning langsat,rambut lurus panjang.
Tambako1
Tambako 2
Kabilasa 1
Kabilasa 2
Kobilasa 3
Tema
“Akibat derasnya arus globalisasi adat terlupakan”
Analisis Tekstur Lakon
Naskah drama adalah pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir naskah terlebih dahulu memahami tekstur. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.
Dialog
Drama ini memperlihatkan suatu gaya penulisan dengan ungkapan keseharian. Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama. Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah.
Mood
Mood adalah suasana. Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik. Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya. Penghadiran suasana dalam naskah drama “Imangge Mpobilisi” suasana perkampungan menggambarkan aktivitas keseharian warga kampung yang terlihat polos dan jujur bahkan terlihan over akting..
Spektakel
Melalui pencermatan naskah drama “Imangge Mpobilisi” Spektakel terdapat pada Set panggung dan dialeg aktor yang menggunakan bahasa Kaili.
Realis Surealis
Realisme
Realisme dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir. Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran objektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula. Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987). Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan. Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme..
Surealisme
Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an. Surealisme merupakan seni dan penulisan yang paling banyak dikenal. Karya ini memiliki unsur kejutan, barang tak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Karya tersebut merupakan artefak, dan André Breton mengatakan bahwa surealisme berada di atas segala gerakan revolusi. Dari aktivitas Dadaisme, surealisme dibentuk dengan pusat gerakan terpentingnya di Paris. Dari tahun 1920-an aliran ini menyebar ke seluruh dunia. Surealisme memengaruhi film seperti Angel's Egg dan El Topo. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire dalam catatan program yang menjelaskan balet Parade, yang merupakan karya kolaboratif oleh Jean Cocteau, Erik Satie, Pablo Picasso dan Léonide Massine: "Dari persekutuan baru ini, hingga sekarang, perlengkapan dan kostum panggung di satu sisi dan koreografi di sisi lain hanya ada persekutuan pura-pura di antara mereka, terjadi sejenis super-realisme ('sur-réalisme') di Parade, di mana saya melihat titik mula serangkaian manifestasi semangat baru ini.
Monday, May 23, 2011
“PARADE KARYA TARI DAERAH 2011 KEHILANGAN KEDAERAHANNYA”
M. Noerdianza
Parade Tari Daerah adalah program tahunan Dinas Pariwisata Propinsi, cukup mendapat respon positif dari para kreografer Kota dan Kabupaten di Sulawesi Tengah. Pertarungan ide yang positif membuat seni tari di Sulawesi Tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Konon kabarnya, kota Palu dulunya sebagai barometer kesenian bagi para pecinta seni di Kabupaten, kini bergeser seratus delapan puluh derajat, terbukti pada parade teater tahun lalu tepatnya di tahun 2010, garapan terbaik satu di berikan kepada Buol, terbaik dua Luwuk, dan terbaik tiga jatuh ke Kabupaten Poso. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan, apa gerangan yang terjadi. Apakah para kreografer tari dan para penarinya kehilangan semangat mengembangkan seni budayanya, atau karena persoalan klasik yang terus - menerus terjadi antara birokrasi terkait dan senimannya.
“Masa bodoh, seberapa jauh kau mencintai dan memahami tradisi di Daerahmu, tunjukan dulu konsep karyamu baru boleh menuntut .!”
Atau karena seniman tari sendiri belum memahami betul seni budaya tradisi di Daerahnya, atau karena pengaruh derasnya arus globalisasi mengalir begitu cepat kekehidupan sosial kita, sehingga pemikiran-pemikiran kita tentang tradisi terkikis sedikit demi sedikit lalu lenyap begitu saja. Atau hanya karena mencari nama semata biar dibilang kreografer tari. Kasihan...
Para kreografer tari patut dipertanyakan tentang kemampuan pemahaman tari, tidak hanya sebatas penciptaan gerak, levelitas dan komposisi saja, melainkan konsep sebuah garapan, contoh kasus yang terjadi pada “Parade Karya Tari Daerah Tahun 2010,” Kabupaten Buol kehilangan kedaerahannya, yang muncul malahan budaya jawa; nampak dari kostum, make up, dan gaya komedialnya, sementara gaya penarinya pun ala Semar. Harus dipertanyakan, apakah ini parade tari Daerah Sulawesi Tengah atau Parade Tari JaSu (Jawa Sulawesi). Istilah modernnya “cross culture” (silang budaya), kalau memang demikian, konsep temanya harus diperjelas dong.
Paling menariknya lagi tidak pernah ada di temukan di Indonesia, adalah sikap kekeluargaan tradisi daerah yang begitu kental, sehingga garapan-garapan tari daerah bisa diwakili siapa saja. Donggala mayoritas penari dan kreografer orang Palu, Bangkep juga mayoritas orang Palu. Parigi juga demikian. Tidak ada salahnya jika demikian, tetapi yang menjadi persoalan para kreografer tari belum memahami budaya lokal daerah tertentu. Timbul lagi sebuah pertanyaan kenapa bisa demikian? Ya, tidak lain tidak bukan, untuk penghematan dana buat pembeli susu. Apakah sikap demikian patut dikatakan sebagai seniman/budayawan Kota Palu. Tidak salah lagi, bahwa “Parade Karya Tari Daerah” bukan ajang pencarian minat bakat generasi sebagai pondasi dan tonggak tumbuh dan berkembangnya tradisi budaya lokal daerah setempat. Melainkan dijadikan sebagai ajang Proyektor (proyek kotor)..para birokrasi tertentu.
Kalau memang Parade Karya Tari daerah konsumsinya Pariwisata ya tunjukanlah budaya lokal kedaerahanmu, bedahalnya dengan festival tari kreasi Daerah yang lebih menonjolkan kreativitas yang tentunya berangkat dari tradisi budaya lokal, sebab kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.
Semoga ke depan gerakan kesenian berbasis lokal dapat mejadi perhatian bersama, yaitu sisi penyiapan sosial komunitas (social preparation) sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community Development) dan pengembangan ekonominya (economy development). Upaya ini harus mampu mendorong masyarakat bangkit dan berubah
Parade Tari Daerah adalah program tahunan Dinas Pariwisata Propinsi, cukup mendapat respon positif dari para kreografer Kota dan Kabupaten di Sulawesi Tengah. Pertarungan ide yang positif membuat seni tari di Sulawesi Tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Konon kabarnya, kota Palu dulunya sebagai barometer kesenian bagi para pecinta seni di Kabupaten, kini bergeser seratus delapan puluh derajat, terbukti pada parade teater tahun lalu tepatnya di tahun 2010, garapan terbaik satu di berikan kepada Buol, terbaik dua Luwuk, dan terbaik tiga jatuh ke Kabupaten Poso. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan, apa gerangan yang terjadi. Apakah para kreografer tari dan para penarinya kehilangan semangat mengembangkan seni budayanya, atau karena persoalan klasik yang terus - menerus terjadi antara birokrasi terkait dan senimannya.
“Masa bodoh, seberapa jauh kau mencintai dan memahami tradisi di Daerahmu, tunjukan dulu konsep karyamu baru boleh menuntut .!”
Atau karena seniman tari sendiri belum memahami betul seni budaya tradisi di Daerahnya, atau karena pengaruh derasnya arus globalisasi mengalir begitu cepat kekehidupan sosial kita, sehingga pemikiran-pemikiran kita tentang tradisi terkikis sedikit demi sedikit lalu lenyap begitu saja. Atau hanya karena mencari nama semata biar dibilang kreografer tari. Kasihan...
Para kreografer tari patut dipertanyakan tentang kemampuan pemahaman tari, tidak hanya sebatas penciptaan gerak, levelitas dan komposisi saja, melainkan konsep sebuah garapan, contoh kasus yang terjadi pada “Parade Karya Tari Daerah Tahun 2010,” Kabupaten Buol kehilangan kedaerahannya, yang muncul malahan budaya jawa; nampak dari kostum, make up, dan gaya komedialnya, sementara gaya penarinya pun ala Semar. Harus dipertanyakan, apakah ini parade tari Daerah Sulawesi Tengah atau Parade Tari JaSu (Jawa Sulawesi). Istilah modernnya “cross culture” (silang budaya), kalau memang demikian, konsep temanya harus diperjelas dong.
Paling menariknya lagi tidak pernah ada di temukan di Indonesia, adalah sikap kekeluargaan tradisi daerah yang begitu kental, sehingga garapan-garapan tari daerah bisa diwakili siapa saja. Donggala mayoritas penari dan kreografer orang Palu, Bangkep juga mayoritas orang Palu. Parigi juga demikian. Tidak ada salahnya jika demikian, tetapi yang menjadi persoalan para kreografer tari belum memahami budaya lokal daerah tertentu. Timbul lagi sebuah pertanyaan kenapa bisa demikian? Ya, tidak lain tidak bukan, untuk penghematan dana buat pembeli susu. Apakah sikap demikian patut dikatakan sebagai seniman/budayawan Kota Palu. Tidak salah lagi, bahwa “Parade Karya Tari Daerah” bukan ajang pencarian minat bakat generasi sebagai pondasi dan tonggak tumbuh dan berkembangnya tradisi budaya lokal daerah setempat. Melainkan dijadikan sebagai ajang Proyektor (proyek kotor)..para birokrasi tertentu.
Kalau memang Parade Karya Tari daerah konsumsinya Pariwisata ya tunjukanlah budaya lokal kedaerahanmu, bedahalnya dengan festival tari kreasi Daerah yang lebih menonjolkan kreativitas yang tentunya berangkat dari tradisi budaya lokal, sebab kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.
Semoga ke depan gerakan kesenian berbasis lokal dapat mejadi perhatian bersama, yaitu sisi penyiapan sosial komunitas (social preparation) sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community Development) dan pengembangan ekonominya (economy development). Upaya ini harus mampu mendorong masyarakat bangkit dan berubah
Thursday, May 19, 2011
pertunjukan "Galilei"
“KEHIDUPAN GALILEI”
Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo Sutradara M. Noerdianza
A. Latar Belakang
Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di Kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.
Setelah sukses mementaskan lakon “BOS” karya M. Noerdianza di Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah dan “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi di Cak Durasim Surabaya.tahun 2010. SSL akan kembali mementaskan dua karya dalam semalam, dalam lakon “Diam” dan “Kehidupan Galilei”
Potret Galileo Galilei
Galileo Galilei lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak ,masa kecil, kemudian ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronom sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.
Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung Galilei Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengancam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus
Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622 yang kemudian diterbitkan pada 1623, pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo Sopra I due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno a due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total.
Galileo Galilei meninggal ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya di Arcetri, Toscana, pada 8 Januari 1642 pada umur 77 Tahun Galileo adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiyah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi dan hukum gerak pertama dan kedua dinamika. Selain itu, Galileo Galilei juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernikus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan dijauhkan kepengadilan gereja Italia tanggal, 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan tahanan rumah sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa gereja katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi iya telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat dibelanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3 x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. pada 25 agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk untuk membuat pelayaran. Pengamatan astronomnya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610 berjudul Sidereus Nuncius
Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter- Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610, empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede, ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.
Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom TiongHoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada dipermukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan adalah bola sempurna. Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.
Nicolaus Copernicus
Lahir di kota Torun, Polandia, 19 Februari 1473 wafat di kota Frombork, Polandia, 24 Mei 1543 pada usia 70 tahun adalah seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrime, yaitu teori yang berpendapat bahwa matahari bersifat stasioner posisinya tetap dan berada pada pusat alam semesta. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, telah menjungkirbalikan teori geosentrisme, yaitu teori yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus ini dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan ilmu pengetahuan modern. Teori ini menimbulkan revolusi ilmiah.
Biografi Pengarang
Tanggal 14 Agustus 1956 Bertolt Brecht meninggal pada usia 58 tahun. Penyair Jerman dengan nama lengkap Eugen Bertolt Friedrich Brecht ini lahir di kota Augsburg pada 10 Februari 1898. Ia anak seorang direktur perusahaan kertas. Pada awal kariernya, yakni ketika ia berusia 14 tahun sudah menulis sajak dengan judul Pohon yang Terbakar (Derbrennende Baum). Kemudian dengan menggunakan Pseudonim Eugen Brecht ia tulis naskah drama berjudul alkitab (Die Bibel) pada majalah sekolah Die Ernte.
Pada perang dunia 1 pecah tahun 1914, Brecht masih duduk di SMA dan mulai aktif menuliskan sajak-sajak patriotik, juga pada lembaran-lembaran kartu pos. Pada tahun yang sama sejak Brecht pertama kali dimuat koran local Augsburger Neuesten Nachrichten. Ketika Brecht menginjak usia 16 tahun telah menulis sajak sindiran untuk orang-orang kaya termasuk keluarganya. Sajak yang pernah dipublikasikan tersebut sebagai berikut : Aku lahir sebagai anak laki-laki/orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, begitulah aku dididik/kebiasaan yang selalu dilayani/dan diajari cara memerintah. Tapi/setelah aku dewasa dan bisa sadar diri/tak tertarik orang-orang disekitarku/tak mau memerintah dan diperintah/dan aku tinggalkan kelasku, lalu menggabungkan diri dengan rakyat biasa.
Di bangku SMA, Brecht dikenal sebagai siswa yang bandel, bahkan dijuluki oleh gurunya sebagai Enfant Terrible.setamat SMA Brecht melanjutkan kuliah mengambil jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian Munich. Kuliahnya pun akhirnya gagal, karena ia tak pernah masuk, di samping suasana perang makin mencekam. Menurut kritikus sastra di jerman, Marcel Reich-Ranicki pada bukunya berjudul Nachprufung (Menguji ulang), bahwa karya drama Brecht sering di pengaruhi oleh latar Negara yang berbeda.
Misalnya, drama yang pertama kali diakui publik berjudul “Mann ist Mann” (Lelaki adalah Lelaki) terpengaruh latar india. Drama berlatar Rusia berjudul “Mutter” (ibu). Drama berlatar London berjudul “Dreigrochenoper” (tiga opera picisan), sedang drama berlatar Chicago berjudul “Heilige” Johanna (yohanna yang suci). Proses kreatif Brecht menurut Ranicki, ia tak hanya genius, namun juga bekerja cepat secara terus menerus. Naskah yang sudah jadi, sering kali dicoret dan dibuang. Bagi Brecht pementasan drama di panggung ibarat sebuah potret. Dan potret itu harus bisa dilihat penonton dengan sangat jernih. Sebab itu Brecht dikenal seorang dramaturgi yang jeli melihat setiap mimik, gerak tubuh, kata, serta sosok. Dengan kata lain pementasan di panggung harus seindah puisi. Drama menurutnya sebagai forum berdebat dan bukan sebagai tempat ilusi belaka.
Pada tahun 1920 ibu Brecht meninggal dan sejak itu ia pergi dari rumahnya serta menyewa apartement di Munich bersama Marianne Zoff, penyanyi asal sekotanya Augsburg. Pada tahun 1922 mereka kawin. Pada tahun 1923 pasangan ini dikaruniai anak perempuan bernama Hanne Marianne. Ketika anaknya meninggal, Brecht marah dan mengumpat, Ruh sudah turun dari Marianne Zoff…,sundel ini harusnya tak punya anak, anaku berasal darinya, tapi ia tak memiliki hati yang bersih. Pada tahun 1927 pasangan ini cerai. Zoff kala itu menjadi pemain drama terkenal. Tak hanya Goethe sebagai penyair yang digemari banyak perempuan hingga punya delapan pacar. Brecht pun demikian. Ia dikelilingi banyak perempuan. Salah satu yang memikat hatinya adalah, seorang perempuan Yahudi juga pemain drama bernama Helene Weigel.
Pada tahun1928 ia kawin dengan Weigel. Dua tahun kemudian pasangan baru ini mendapat seorang pasangan bernama Maria Barbara.
Brecht tergolong penyair dan dramaturgi yang sangat produktif. Beberapa naskah dramannya yang paling sering mendapat banyak pujian masyarakat luas berjudul Baal, Trommel in der Nacht (Genderang Malam), dan Dreigroschenoper (Tiga Opera Picisan), Lebendes Galilei (Kehidupan Galilei), serta Mutter Courage und ihre Kinder ( Ibu Courage dan Anak-anaknya). Akan tetapi Gerhard Szczesny pada bukunya berjudul Brecht, Leben des Galilei mengkritik Brecht, kalau Brecht telah membelokan alur kehidupan Galilei ke dalam kehidupannya sendiri.
Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo Sutradara M. Noerdianza
A. Latar Belakang
Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di Kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.
Setelah sukses mementaskan lakon “BOS” karya M. Noerdianza di Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah dan “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi di Cak Durasim Surabaya.tahun 2010. SSL akan kembali mementaskan dua karya dalam semalam, dalam lakon “Diam” dan “Kehidupan Galilei”
Potret Galileo Galilei
Galileo Galilei lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak ,masa kecil, kemudian ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronom sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.
Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung Galilei Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengancam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus
Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622 yang kemudian diterbitkan pada 1623, pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo Sopra I due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno a due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total.
Galileo Galilei meninggal ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya di Arcetri, Toscana, pada 8 Januari 1642 pada umur 77 Tahun Galileo adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiyah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi dan hukum gerak pertama dan kedua dinamika. Selain itu, Galileo Galilei juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernikus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan dijauhkan kepengadilan gereja Italia tanggal, 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan tahanan rumah sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa gereja katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi iya telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat dibelanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3 x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. pada 25 agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk untuk membuat pelayaran. Pengamatan astronomnya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610 berjudul Sidereus Nuncius
Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter- Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610, empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede, ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.
Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom TiongHoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada dipermukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan adalah bola sempurna. Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.
Nicolaus Copernicus
Lahir di kota Torun, Polandia, 19 Februari 1473 wafat di kota Frombork, Polandia, 24 Mei 1543 pada usia 70 tahun adalah seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrime, yaitu teori yang berpendapat bahwa matahari bersifat stasioner posisinya tetap dan berada pada pusat alam semesta. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, telah menjungkirbalikan teori geosentrisme, yaitu teori yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus ini dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan ilmu pengetahuan modern. Teori ini menimbulkan revolusi ilmiah.
Biografi Pengarang
Tanggal 14 Agustus 1956 Bertolt Brecht meninggal pada usia 58 tahun. Penyair Jerman dengan nama lengkap Eugen Bertolt Friedrich Brecht ini lahir di kota Augsburg pada 10 Februari 1898. Ia anak seorang direktur perusahaan kertas. Pada awal kariernya, yakni ketika ia berusia 14 tahun sudah menulis sajak dengan judul Pohon yang Terbakar (Derbrennende Baum). Kemudian dengan menggunakan Pseudonim Eugen Brecht ia tulis naskah drama berjudul alkitab (Die Bibel) pada majalah sekolah Die Ernte.
Pada perang dunia 1 pecah tahun 1914, Brecht masih duduk di SMA dan mulai aktif menuliskan sajak-sajak patriotik, juga pada lembaran-lembaran kartu pos. Pada tahun yang sama sejak Brecht pertama kali dimuat koran local Augsburger Neuesten Nachrichten. Ketika Brecht menginjak usia 16 tahun telah menulis sajak sindiran untuk orang-orang kaya termasuk keluarganya. Sajak yang pernah dipublikasikan tersebut sebagai berikut : Aku lahir sebagai anak laki-laki/orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, begitulah aku dididik/kebiasaan yang selalu dilayani/dan diajari cara memerintah. Tapi/setelah aku dewasa dan bisa sadar diri/tak tertarik orang-orang disekitarku/tak mau memerintah dan diperintah/dan aku tinggalkan kelasku, lalu menggabungkan diri dengan rakyat biasa.
Di bangku SMA, Brecht dikenal sebagai siswa yang bandel, bahkan dijuluki oleh gurunya sebagai Enfant Terrible.setamat SMA Brecht melanjutkan kuliah mengambil jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian Munich. Kuliahnya pun akhirnya gagal, karena ia tak pernah masuk, di samping suasana perang makin mencekam. Menurut kritikus sastra di jerman, Marcel Reich-Ranicki pada bukunya berjudul Nachprufung (Menguji ulang), bahwa karya drama Brecht sering di pengaruhi oleh latar Negara yang berbeda.
Misalnya, drama yang pertama kali diakui publik berjudul “Mann ist Mann” (Lelaki adalah Lelaki) terpengaruh latar india. Drama berlatar Rusia berjudul “Mutter” (ibu). Drama berlatar London berjudul “Dreigrochenoper” (tiga opera picisan), sedang drama berlatar Chicago berjudul “Heilige” Johanna (yohanna yang suci). Proses kreatif Brecht menurut Ranicki, ia tak hanya genius, namun juga bekerja cepat secara terus menerus. Naskah yang sudah jadi, sering kali dicoret dan dibuang. Bagi Brecht pementasan drama di panggung ibarat sebuah potret. Dan potret itu harus bisa dilihat penonton dengan sangat jernih. Sebab itu Brecht dikenal seorang dramaturgi yang jeli melihat setiap mimik, gerak tubuh, kata, serta sosok. Dengan kata lain pementasan di panggung harus seindah puisi. Drama menurutnya sebagai forum berdebat dan bukan sebagai tempat ilusi belaka.
Pada tahun 1920 ibu Brecht meninggal dan sejak itu ia pergi dari rumahnya serta menyewa apartement di Munich bersama Marianne Zoff, penyanyi asal sekotanya Augsburg. Pada tahun 1922 mereka kawin. Pada tahun 1923 pasangan ini dikaruniai anak perempuan bernama Hanne Marianne. Ketika anaknya meninggal, Brecht marah dan mengumpat, Ruh sudah turun dari Marianne Zoff…,sundel ini harusnya tak punya anak, anaku berasal darinya, tapi ia tak memiliki hati yang bersih. Pada tahun 1927 pasangan ini cerai. Zoff kala itu menjadi pemain drama terkenal. Tak hanya Goethe sebagai penyair yang digemari banyak perempuan hingga punya delapan pacar. Brecht pun demikian. Ia dikelilingi banyak perempuan. Salah satu yang memikat hatinya adalah, seorang perempuan Yahudi juga pemain drama bernama Helene Weigel.
Pada tahun1928 ia kawin dengan Weigel. Dua tahun kemudian pasangan baru ini mendapat seorang pasangan bernama Maria Barbara.
Brecht tergolong penyair dan dramaturgi yang sangat produktif. Beberapa naskah dramannya yang paling sering mendapat banyak pujian masyarakat luas berjudul Baal, Trommel in der Nacht (Genderang Malam), dan Dreigroschenoper (Tiga Opera Picisan), Lebendes Galilei (Kehidupan Galilei), serta Mutter Courage und ihre Kinder ( Ibu Courage dan Anak-anaknya). Akan tetapi Gerhard Szczesny pada bukunya berjudul Brecht, Leben des Galilei mengkritik Brecht, kalau Brecht telah membelokan alur kehidupan Galilei ke dalam kehidupannya sendiri.
Monday, June 28, 2010
Topogente sutradara M. Noerdianza
Latar belakang munculnya absurditas
Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis
“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).
Sekilas Tentang Absurd
Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd. Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal.
Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).
Analisis Naskah
Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.
Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah.
“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.
Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?” “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.”
Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).
Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang.
Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi. Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.
Struktur
Plot
Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:
Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)
Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:
Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….
................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6)
Karakter
Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:
Lelaki 1 : Psikologis: Tegas.
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Tinggi kurus.
Lelaki 2 : Psikologis: Mudah marah
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata
Fisiologis : Kurus.
Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Kurus.
Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.
Tema
Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”
Tekstur
Dialog
Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:
Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5)
Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:
Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.
Lelaki 1 : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.
Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.
Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)
Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:
Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)
Suasana
Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.
Rangkuman
Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.
Spektakel
spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura.
Setting / latar
Waktu : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.
Tempat : Tanah lapang
Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.
Sinopsis
Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis
“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).
Sekilas Tentang Absurd
Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd. Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal.
Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).
Analisis Naskah
Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.
Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah.
“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.
Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?” “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.”
Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).
Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang.
Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi. Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.
Struktur
Plot
Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:
Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)
Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:
Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….
................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6)
Karakter
Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:
Lelaki 1 : Psikologis: Tegas.
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Tinggi kurus.
Lelaki 2 : Psikologis: Mudah marah
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata
Fisiologis : Kurus.
Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Kurus.
Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.
Tema
Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”
Tekstur
Dialog
Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:
Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5)
Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:
Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.
Lelaki 1 : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.
Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.
Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)
Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:
Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)
Suasana
Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.
Rangkuman
Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.
Spektakel
spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura.
Setting / latar
Waktu : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.
Tempat : Tanah lapang
Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.
Sinopsis
Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Topogente sutradara M. Noerdianza
Latar belakang munculnya absurditas
Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis
“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).
Sekilas Tentang Absurd
Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd. Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal.
Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).
Analisis Naskah
Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.
Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah.
“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.
Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?” “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.”
Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).
Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang.
Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi. Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.
Struktur
Plot
Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:
Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)
Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:
Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….
................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6)
Karakter
Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:
Lelaki 1 : Psikologis: Tegas.
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Tinggi kurus.
Lelaki 2 : Psikologis: Mudah marah
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata
Fisiologis : Kurus.
Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Kurus.
Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.
Tema
Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”
Tekstur
Dialog
Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:
Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5)
Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:
Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.
Lelaki 1 : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.
Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.
Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)
Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:
Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)
Suasana
Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.
Rangkuman
Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.
Spektakel
spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura.
Setting / latar
Waktu : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.
Tempat : Tanah lapang
Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.
Sinopsis
Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis
“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).
Sekilas Tentang Absurd
Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd. Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal.
Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).
Analisis Naskah
Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.
Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah.
“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.
Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?” “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.”
Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).
Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang.
Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi. Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.
Struktur
Plot
Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:
Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)
Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:
Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….
................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6)
Karakter
Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:
Lelaki 1 : Psikologis: Tegas.
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Tinggi kurus.
Lelaki 2 : Psikologis: Mudah marah
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata
Fisiologis : Kurus.
Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Kurus.
Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.
Tema
Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”
Tekstur
Dialog
Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:
Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5)
Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:
Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.
Lelaki 1 : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.
Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.
Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)
Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:
Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)
Suasana
Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.
Rangkuman
Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.
Spektakel
spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura.
Setting / latar
Waktu : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.
Tempat : Tanah lapang
Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.
Sinopsis
Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)