Oleh: Moh. Nurdiansyah, S.sn
Festival adalah serangkaian kegiatan yang menghadirkan berbagai genre seni yang dikemas secara kreatif, inovatif dan apik. Di kota-kota besar Festival teater baik mahasiswa maupun pelajar selalu bercondong pada naskah-naskah realisme, misalnya Pekan Seni Mahasiswa pada tangkai teater, para peserta diharapkan menggarap teater bergaya realis. Dewan Kesenian Jakarta menggelar Panggung Realis Teater Indonesia, juga Festival Teater Remaja di Jawa timur yang diselenggarakan Taman Budaya Jawa Timur menitik beratkan pesertanya pada naskah realisme. Hal tersebut dilakukan, sebab realisme sebuah dasar atau pijakan cara berpikir kritis dan logis untuk merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran, dan itulah sebabnya teater realis disebut the theatre of intelligent. Ini argumen mendasar teater modern baik itu kaum naturalis, realis, maupun teatrikalis. Max Arifin mengatakan bahwa teater adalah study. Dalam buku Jagad Teater [Bakdi Sumanto:2001], diterangkan semangat realisme yang sebenarnya merangsang seniman untuk kritis terhadap diri sendiri. Zaman sekarang ini generasi muda teater kehilangan fondasi atau dasar pijakan dalam membuat peristiwa teater. “Menurut Max Arifin, ada benarnya kalau sekarang kembali pada gagasan realisme, agar mereka tahu proses sebuah teater yang baik.” Sementara ktitik teater benar-benar macet. ketika semuanya macet, di sinilah peranan realisme dibutuhkan dan kita kembali pada hal yang sangat mendasar bagi manusia: Berpikir !
Seni Teater merupakan sebuah bidang seni yang telah begitu lama mengakar pada budaya kita. Seni Teater dalam arti luas adalah sebuah pertunjukan yang dipertontonkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit disebut dengan drama, yakni kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak dengan media: percakapan, gerak dan laku. Saat ini terdapat begitu banyak remaja, khususnya pelajar sekolah yang berminat untuk bergelut dengan jenis kesenian ini, dan memasukan seni Drama/Teater sebagai ekstrakulikuler penyalur minat dan bakat para siswa/siswi. Tanpa disadari seni Drama/Teater sungguh besar arti dan manfaatnya, selain mendukung pencapaian kompetensi para siswa/siswi khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra, seni Drama/Teater juga mencakup manfaat dari kolektivitas, apresiasi, etos kerja dan solidaritas para siswa sekolah. Seni Drama/Teater tidak hanya sebatas pertunjukan memperlihatkan perannya di atas panggung kemudian selesai begitu saja. Seni Drama/Teater mengajarkan kita memahami akan diri sendiri, belajar memahami watak serta prilaku antara manusia satu dengan yang lain. Dengan demikian terciptalah ruang sosial dalam mewujudkan cita-cita untuk mencegah dan menghindar dari sikap-sikap negativ, sepertihalnya tawuran dan penggunaan narkoba.
Berangkat dari hal tersebut di atas, kami dari Komite Teater Dewan Kesenian Palu akan menggelar ajang kreativitas yang kompotitif bagi para siswa SMA/SMK//MAN dan sederajat sebagai wadah penyalur minat dan bakat, serta sebagai jalur menuju tahap kompetitif. Festival ini juga akan berpegang teguh pada ‘dramaturgi,’ yakni ajaran tentang masalah hukum dan konvensi-konvensi drama yang memiliki standarisasi penilaian baik dari segi artistik maupun keaktoran. Komite Teater Dewan Kesenian Palu akan mengusung kegiatan ini dengan Tema “Festival Teater Remaja 2011”. Sebelumnya kegiatan ini pernah diadakan pada tahun 1996-1997. Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut “Festival Teater Pelajar”, dan kembali digelar oleh Komite Teater Dewan Kesenian Palu tahun 2010, peserta terbaik pada waktu itu SMA Negeri 1 Palu, mewakili Kota Palu mengikuti Festival Teater Pelajar Tingkat Nasional IKIP PGRI Semarang dan masuk beberapa nominasi, di antaranya Aktris Terbaik, pembantu aktor terbaik, penampil terbaik dan penyutradaraan terbaik.
FTR (Festival Teater Remaja) adalah salah satu program tahunan KOMITE TEATER DEWAN KESENIAN PALU yang merupakan ajang kompetensi pementasan Drama/teater bagi para siswa SMA/SMK/sederajat khususnya yang berdomisili di kota Palu. FTR diselenggarakan kembali, mengingat akan berlangsungnya kegiatan ini dan tanggungjawab kami sebagai segelintir orang yang terjun di dunia seni, maka kami membangkitkan semangat untuk meneruskan kegiatan seni yang positif. FTR merupakan wadah penyalur minat dan bakat seni generasi muda yang lebih kontruktif. Selain itu juga dapat menumbuh kembangkan sekaligus menggairahkan kehidupan seni teater di Kota Palu. Oleh sebab itu, melihat tumbuh dan berkembangnya seni Drama/Teater di kalangan SMA/SMK/MAN dan sederajat di Kota Palu sangat perlu mendapat perhatian dan dukungan yang serius dari semua pihak.
Festival Teater Pelajar tidak hanya ada di Kota Palu saja. Festival Teater Pelajar tumbuh dan berkembang di kota-kota besar, yakni Jakarta dengan “FESTIVAL TEATER PELAJAR JAKARTA TINGKAT SLTA JAKARTA BARAT”, Bandung “FESTIVAL TEATER REMAJA SE-JABAR”, Semarang “FESTIVAL DRAMA PELAJAR SMA/SEDERAJAT TINGKAT NASIONAL IKIP PGRI SEMARANG”, Probolinggo “PESTA SENI PELAJAR FESTIVAL TEATER PELAJAR TINGKAT SMA/MA/SMK JAWA TIMUR”, kemudian Yogyakarta “FESTIVAL TEATER REMAJA SMA/SEDERAJAT SE-JAWA TENGAH INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA”, Solo “Festival Drama Realis”, Remaja se-Solo Raya. Banjarmasin dengan ”FESTIVAL TEATER PELAJAR SLTA SEDERAJAT” . dan masih banyak lagi di kota-kota lainnya.
Saturday, July 16, 2011
Tuesday, July 5, 2011
Sekilas pengertian aktor
Aktor Harus "Menjadi"
Bukan "Seperti"
M.Noerdianza
Menanti fajar terbit diufuk timur tanpa mata terpejam, sementara cacing-cacing di dalam perut menangis menunggu makanan, ayam jantanpun terdengar berkokok. Hari itu adalah pertemuan yang sangat berharga bisa berhadapan langsung bersama aktor membahas tentang sekelumit perasaan di saat pertunjukan berakhir. Masing-masing memiliki perbedaan pikir dan rasa. Hal ini menjadi ilmu yang sangat berharga bagi penulis, sebab pengalaman itu adalah guru yang terbesar. Dalam proses keaktoran, pengalaman itu menjadi kekayaan diri seorang Aktor. Jangan sekali-kali merasa puas dengan apa yang ditemukan dalam realitas sosial, cukup merasa bangga dengan apa yang didapatkan, bukan berarti kebanggaan itu dijadikan suatu kesombongan, akan menenggelamkannya pada kesombongan.
Aktor tidak hanya menghafal dialog dalam naskah atau menggerakkan tubuh fisiknya begitu saja. Melainkan bagaimana merangsang alam imajinya melalui perenungan lalu merasakannya hingga menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Aktor tidak hanya sebatas “SEPERTI” tetapi harus “MENJADI”. Kalau hanya sebatas seperti yang muncul hanya kepalsuan, sama halnya ruang kosong yang hampa. Jika aktor menjadi, ruang kosong yang hampa terlihat menjadi hidup. Sebab inner kekuatan dari dalam tubuh Aktor memancar mengisi ruang-ruang kosong itu. Sehingga emosi penonton terbawa oleh irama atau suasana permainan.
Bakat tidak menunjang sukses dan tidaknya seseorang tanpa didukung oleh kemauan besar. Dunia seni khususnya teater tidak memandang apakah ia berbakat atau tidak, apakah sebelumnya ia berpengalaman atau tidak, yang harus diperhatikan dan menjadi prioritas utama adalah menghargai proses kreatif. Terutama penghargaan terhadap waktu, kemauan, semangat dan rasa ingin tahu yang besar, sudah barang tentu apa yang ingin dicapai pasti akan berada dalam genggaman. Dalam dunia Akting jangan mengejar estetika atau keindahan, melainkan pengejaran kebenaran terhadap karakter tokoh, melalui analisis tiga dimensi tokoh. Ketika menemukan kebenaran itu, estetika atau keindahan akan muncul dengan sendirinya..oleh sebab itu jangan sekali-kali hanya berpikir, tetapi rasakan apa yang anda perbuat... pikir dan rasa bagai lampu dan saklar. apabila pikir dan rasa menyatu mengalir ke tubuh fisik maka anda nampak “Menjadi” bukan “Seperti”.
Bukan "Seperti"
M.Noerdianza
Menanti fajar terbit diufuk timur tanpa mata terpejam, sementara cacing-cacing di dalam perut menangis menunggu makanan, ayam jantanpun terdengar berkokok. Hari itu adalah pertemuan yang sangat berharga bisa berhadapan langsung bersama aktor membahas tentang sekelumit perasaan di saat pertunjukan berakhir. Masing-masing memiliki perbedaan pikir dan rasa. Hal ini menjadi ilmu yang sangat berharga bagi penulis, sebab pengalaman itu adalah guru yang terbesar. Dalam proses keaktoran, pengalaman itu menjadi kekayaan diri seorang Aktor. Jangan sekali-kali merasa puas dengan apa yang ditemukan dalam realitas sosial, cukup merasa bangga dengan apa yang didapatkan, bukan berarti kebanggaan itu dijadikan suatu kesombongan, akan menenggelamkannya pada kesombongan.
Aktor tidak hanya menghafal dialog dalam naskah atau menggerakkan tubuh fisiknya begitu saja. Melainkan bagaimana merangsang alam imajinya melalui perenungan lalu merasakannya hingga menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Aktor tidak hanya sebatas “SEPERTI” tetapi harus “MENJADI”. Kalau hanya sebatas seperti yang muncul hanya kepalsuan, sama halnya ruang kosong yang hampa. Jika aktor menjadi, ruang kosong yang hampa terlihat menjadi hidup. Sebab inner kekuatan dari dalam tubuh Aktor memancar mengisi ruang-ruang kosong itu. Sehingga emosi penonton terbawa oleh irama atau suasana permainan.
Bakat tidak menunjang sukses dan tidaknya seseorang tanpa didukung oleh kemauan besar. Dunia seni khususnya teater tidak memandang apakah ia berbakat atau tidak, apakah sebelumnya ia berpengalaman atau tidak, yang harus diperhatikan dan menjadi prioritas utama adalah menghargai proses kreatif. Terutama penghargaan terhadap waktu, kemauan, semangat dan rasa ingin tahu yang besar, sudah barang tentu apa yang ingin dicapai pasti akan berada dalam genggaman. Dalam dunia Akting jangan mengejar estetika atau keindahan, melainkan pengejaran kebenaran terhadap karakter tokoh, melalui analisis tiga dimensi tokoh. Ketika menemukan kebenaran itu, estetika atau keindahan akan muncul dengan sendirinya..oleh sebab itu jangan sekali-kali hanya berpikir, tetapi rasakan apa yang anda perbuat... pikir dan rasa bagai lampu dan saklar. apabila pikir dan rasa menyatu mengalir ke tubuh fisik maka anda nampak “Menjadi” bukan “Seperti”.
Monday, June 6, 2011
“Pemahaman Tasrif Lawido Tentang Dewan Kesenian Palu dan Perkembangan Seni di Kota Palu Sungguh Sangat Nihil”
Menyikapi tulisan Tasrif dimuat di Radar Sulteng Senin 6 Juni 2011)
M.Noerdianza, S.sn
Kalau mengkritik jangan sembarang cas cis cus di depan pablik, apalagi sampai dimuat di surat kabar harus ada bukti yang konkrit Kanda, siapa bilang DKP tidak ada program kerja, Komite Musik beberapa bulan lalu sudah melaksanakan program kerjanya, tepatnya 20 April 2011 di Taman Budaya, Komite Tari menghadiri pertemuan tari di Solo “Tari Internasional Dance Day 29 April 2011”, Sastra pelauncingan buku, Komite Rupa 11 Juni 2011, sementara Komite Teater akan diadakan Oktober 2011 mendatang. Saya sebagai pribadi sangat berat mengatakan kanda Tasrif sebagai Seniman senior, patut dipertanyakan kesenioritasannya. Berapa karya yang dihasilkannya? Bagaimana bentuk karyanya? Sebaik apa sih karyanya? Sementara banyak generasi yang mempertanyakan Tasrif itu siapa? Mana karya-karya yang dihasilkannya? Bentuk garapan dan ciri khasnya bagaimana sih.? Dari pertanyaan ini saja membuktikan bahwa Tasrif tidak dekat dengan masyarakatnya. Seorang seniman harus dekat dengan masyarakatnya, harus tahu perkembangan seni di Kota Palu. kalau seniman birokrat iya. Sementara, apa kontribusi Tasrif terhadap perkembangan seni di Kota Palu? Tidak jelas...kalaupun ada, garapannya pun amburadul, terbukti pada “Festival Danau Poso 2010”, iseng-iseng saya bertanya pada penari kontingen Palu, “Mba dari sanggar tari mana?” eh.., malah dijawab “maaf mas kita belum punya sanggar saya sebelumnya belum pernah menari” dan ada lagi letupan-letupan dari para penari kontingen kota “Aduh...mas saya gugup baru pertama kali ini tampil”, tidak masalah bagi saya itu hal yang wajar sebagai manusia, malah saya mencoba memberi suport “main yang bagus ya, rileks saja, yakin, jangan lupa smile. Usut demi usut ternyata para penari yang diutus pada “Festival Danau Poso” staf-staf Dinas Pariwisata Kota yang sama sekali belum berpengalaman dibidangnya. Saya berani berkata demikian sebab saya berada dilokasi. Sayang kontingen Palu dibawa binaan Tasrif hanya memalukan Kota Palu. Dinas Pariwisata seharusnya sebagai fasilitator saja bukan para IO (Iven Orgenizer), beri kepercayaan kepada yang lebih berhak dan berpengalaman dibidangnya dan seharusnya ada penyeleksian antar para komunitas, sanggar atau kelompok tari se-Kota Palu, mana yang terbaik dialah yang mewakili kota. Kanda Srif jangan sampai kebohongan-kebohongan, kepalsuan-kepalsuan dalam sebuah karya, kau hadirkan lagi dipablik..bukankah esensi dari kesenian jujur dalam perkataan, ikhlas dalam perbuatan..!! saya malah menaruh curiga kanda harus dibawa ke rumah sakit jangan-jangan ada kelainan jiwa.
M.Noerdianza, S.sn
Kalau mengkritik jangan sembarang cas cis cus di depan pablik, apalagi sampai dimuat di surat kabar harus ada bukti yang konkrit Kanda, siapa bilang DKP tidak ada program kerja, Komite Musik beberapa bulan lalu sudah melaksanakan program kerjanya, tepatnya 20 April 2011 di Taman Budaya, Komite Tari menghadiri pertemuan tari di Solo “Tari Internasional Dance Day 29 April 2011”, Sastra pelauncingan buku, Komite Rupa 11 Juni 2011, sementara Komite Teater akan diadakan Oktober 2011 mendatang. Saya sebagai pribadi sangat berat mengatakan kanda Tasrif sebagai Seniman senior, patut dipertanyakan kesenioritasannya. Berapa karya yang dihasilkannya? Bagaimana bentuk karyanya? Sebaik apa sih karyanya? Sementara banyak generasi yang mempertanyakan Tasrif itu siapa? Mana karya-karya yang dihasilkannya? Bentuk garapan dan ciri khasnya bagaimana sih.? Dari pertanyaan ini saja membuktikan bahwa Tasrif tidak dekat dengan masyarakatnya. Seorang seniman harus dekat dengan masyarakatnya, harus tahu perkembangan seni di Kota Palu. kalau seniman birokrat iya. Sementara, apa kontribusi Tasrif terhadap perkembangan seni di Kota Palu? Tidak jelas...kalaupun ada, garapannya pun amburadul, terbukti pada “Festival Danau Poso 2010”, iseng-iseng saya bertanya pada penari kontingen Palu, “Mba dari sanggar tari mana?” eh.., malah dijawab “maaf mas kita belum punya sanggar saya sebelumnya belum pernah menari” dan ada lagi letupan-letupan dari para penari kontingen kota “Aduh...mas saya gugup baru pertama kali ini tampil”, tidak masalah bagi saya itu hal yang wajar sebagai manusia, malah saya mencoba memberi suport “main yang bagus ya, rileks saja, yakin, jangan lupa smile. Usut demi usut ternyata para penari yang diutus pada “Festival Danau Poso” staf-staf Dinas Pariwisata Kota yang sama sekali belum berpengalaman dibidangnya. Saya berani berkata demikian sebab saya berada dilokasi. Sayang kontingen Palu dibawa binaan Tasrif hanya memalukan Kota Palu. Dinas Pariwisata seharusnya sebagai fasilitator saja bukan para IO (Iven Orgenizer), beri kepercayaan kepada yang lebih berhak dan berpengalaman dibidangnya dan seharusnya ada penyeleksian antar para komunitas, sanggar atau kelompok tari se-Kota Palu, mana yang terbaik dialah yang mewakili kota. Kanda Srif jangan sampai kebohongan-kebohongan, kepalsuan-kepalsuan dalam sebuah karya, kau hadirkan lagi dipablik..bukankah esensi dari kesenian jujur dalam perkataan, ikhlas dalam perbuatan..!! saya malah menaruh curiga kanda harus dibawa ke rumah sakit jangan-jangan ada kelainan jiwa.
Thursday, June 2, 2011
Seni Peran
“Dasar-Dasar Akting”
Moh. Nurdiansyah, S,sn
TAHAPAN PERTAMA
Pengantar Seni “Akting”
Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral, maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater, berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi, pencipta alam dan segala isinya.
Asal Mula Gestur
Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal praktis. Perkembangan manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata) dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi, dan sebagainnya.
Gestur dan Komunikasi
Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda. Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh, bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.
Fungsi Gestur
Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :
Ilustratif atau imitatif
Indikatif
Empatik
Austistik
Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan: “Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau menunjuk jari kita kemuka musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi, secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat, bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan leluasa.
PRAKTEK:
1. Olah Tubuh
Senam
Menari
Yoga
Meditasi
2. Olah Vokal
Teknik melatih rongga mulut
a. Pengucapan lafal yang benar
b. Melatih kelenturan rahang bawah
- Membuka rahang bawah selebar 3 jari
- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri
- Gerakkan rahang bawah ke depan
Melatih kelincahan lidah
a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan
b. Menjulurkan lidah keluar
c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.
Melatih kelenturan otot bibir
a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga menimbulkan bunyi “puuh”.
Resonator (pita suara)
Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh berfungsi sebagai resonator.
a. Rongga mulut
- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah
b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah belakang).
mampu memproduksi suara yang rendah dan berat
Ringga dada sebelah atas
Rongga dada sebelah depan
Rongga dada sebelah tengah
Rongga dada bagian belakang
c. Rongga hidung
- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain: konsonan m, n, ny, ng.
Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator.
* Latihan pernafasan
- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2 ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan manahan nafas).
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n (n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat, sesingkat-singkatnya.
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama. Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.
- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan udara sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk vocal yang lain e, i, o, u.
- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan sehabisnya. Diakhir hembusan sertai
dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.
- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup, hitunglah setehap demi setahap
sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan menghembus nafas, tidak seperti
yang pertama lagi.
- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan kedua belah tangan pelan-pelan secara
berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga pelan-pelan dan berlangsung secara
berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan ketika mengeluarkan nafas, tangan
diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !”
*Latihan Menyanyi
-Belajar menempatkan suara dengan nada
*Mendeklamasi
- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga dengan keras-keras, tanpa emosi apa-
apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi suku kata sehingga terkesan puisi
itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam kehendak.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik tubuh kearah yang berlawanan; dua
orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-
perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.
3. Panca Indra
*Indra Lihat;
- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung lehernya di atas dapur.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil
menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila, ia mungkin pacar, ia mungkin model
yang tengah dilukis oleh pelukis.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya lantas berlari kejalan raya.
* Indra Dengar
- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu meanbrak tiang listrik.
- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena terhanyut di sungai
- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia merasa terasing dan gamang.
- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati merasa plong.
*Indra Cium
- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.
- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan ia duduk menghadapi
hidangan makan siang.
- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum yang sesak.
- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang berkesan dalam dirinya.
- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia tidak suka bau ini.
*Indra Kecap
- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.
- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi menghormati tuan rumah yang
menghidangkannya.
- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.
- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.
- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api kompor,apakah sudah pas bumbu-
bumbunya.
*Indra Rasa
- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia berpenyakit asma.
- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong datang orang yang lebih berhak.
- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat panas.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek minta dibelikan es krim.
Moh. Nurdiansyah, S,sn
TAHAPAN PERTAMA
Pengantar Seni “Akting”
Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral, maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater, berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi, pencipta alam dan segala isinya.
Asal Mula Gestur
Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal praktis. Perkembangan manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata) dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi, dan sebagainnya.
Gestur dan Komunikasi
Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda. Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh, bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.
Fungsi Gestur
Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :
Ilustratif atau imitatif
Indikatif
Empatik
Austistik
Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan: “Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau menunjuk jari kita kemuka musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi, secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat, bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan leluasa.
PRAKTEK:
1. Olah Tubuh
Senam
Menari
Yoga
Meditasi
2. Olah Vokal
Teknik melatih rongga mulut
a. Pengucapan lafal yang benar
b. Melatih kelenturan rahang bawah
- Membuka rahang bawah selebar 3 jari
- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri
- Gerakkan rahang bawah ke depan
Melatih kelincahan lidah
a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan
b. Menjulurkan lidah keluar
c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.
Melatih kelenturan otot bibir
a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga menimbulkan bunyi “puuh”.
Resonator (pita suara)
Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh berfungsi sebagai resonator.
a. Rongga mulut
- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah
b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah belakang).
mampu memproduksi suara yang rendah dan berat
Ringga dada sebelah atas
Rongga dada sebelah depan
Rongga dada sebelah tengah
Rongga dada bagian belakang
c. Rongga hidung
- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain: konsonan m, n, ny, ng.
Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator.
* Latihan pernafasan
- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2 ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan manahan nafas).
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n (n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat, sesingkat-singkatnya.
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama. Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.
- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan udara sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk vocal yang lain e, i, o, u.
- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan sehabisnya. Diakhir hembusan sertai
dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.
- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup, hitunglah setehap demi setahap
sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan menghembus nafas, tidak seperti
yang pertama lagi.
- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan kedua belah tangan pelan-pelan secara
berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga pelan-pelan dan berlangsung secara
berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan ketika mengeluarkan nafas, tangan
diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !”
*Latihan Menyanyi
-Belajar menempatkan suara dengan nada
*Mendeklamasi
- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga dengan keras-keras, tanpa emosi apa-
apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi suku kata sehingga terkesan puisi
itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam kehendak.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik tubuh kearah yang berlawanan; dua
orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-
perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.
3. Panca Indra
*Indra Lihat;
- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung lehernya di atas dapur.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil
menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila, ia mungkin pacar, ia mungkin model
yang tengah dilukis oleh pelukis.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya lantas berlari kejalan raya.
* Indra Dengar
- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu meanbrak tiang listrik.
- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena terhanyut di sungai
- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia merasa terasing dan gamang.
- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati merasa plong.
*Indra Cium
- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.
- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan ia duduk menghadapi
hidangan makan siang.
- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum yang sesak.
- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang berkesan dalam dirinya.
- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia tidak suka bau ini.
*Indra Kecap
- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.
- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi menghormati tuan rumah yang
menghidangkannya.
- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.
- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.
- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api kompor,apakah sudah pas bumbu-
bumbunya.
*Indra Rasa
- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia berpenyakit asma.
- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong datang orang yang lebih berhak.
- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat panas.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek minta dibelikan es krim.
Konsep Penyutradaraan
Konsep
“I mangge Mpobilisi”
Karya Ashar Yotomaruangi Sutradara M.Noerdianza
Nampaknya kehidupan tradisi kita kian rapuh
begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pertunjukan
baik teater, musik, tari, yang mengangkat kebudayaan lokal
dan kurang mendapatkan perhatian
Sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?
Adakah tradisi yang kita agul-agulkan yang selalu membuat diri kita menepuk dada sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai adiluhung
sebagai khasanah kehidupan kita masih berfungsi untuk menahan laju, atau minimal menciptakan suatu cara berpikir kritis, jernih, dan mendalam demi kemajuan seni dan kebudayaan lokal
Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. berangkat dari motto inilah pertunjukan berbahasa kaili akan dipentaskan, sebab bahasa tidak lepas dari ciri, watak, yang menggambarkan kepribadian diri seseorang di mana ia lahir dan dibesarkan. Teater berbahasa kaili tentunya masih begitu asing untuk dipentaskan, mengingat kota Palu tidak hanya didiami suku kaili saja. Hal tersebut bukanlah kendala melainkan motivasi dan tugas kita bersama mengangkat bahasa kaili kepermukaan. Kita harus berani bermimpi, karena dengan mimpi kita akan terus terpacu unuk melakukan berbagai hal (Rusdi Mastura, 2011: 94).
Peristiwa teater selama ini hanya berpusat di kota tanpa melibatkan masyarakan pinggiran kota. Dengan adanya teater berbahasa kaili yang terjun ke desa-desa, kaki-kaki gunung, sudah barang tentu akan lebih mempererat psikologis dan sosiologis dengan masyarakat setempat. Beberapa alasan dan opini di atas yang sebenarnya menjadi kegelisahan, stimulan sekaligus motivasi Sanggar Seni Lentera untuk kembali membuat pementasan. Maka untuk menjawab kerinduan publik teater di Kota Palu, SSL akan muncul dengan produksi teater berbahasa Kaili. SSL kembali menyuguhkan dengan format ”Teater Berbahasa Kaili” dengan konsep ruang pemanggungan out door,
Pertunjukan Teater berbahasa Kaili dengan juduI “I Mangge Pobilisi” karya Ashar Yotomaruangi akan dipentaskan keliling dari kampung ke kampung. Pilihan tempat pementasan Sanggar Seni Lentera out door setting yang digunakan merespon ruang yang ada. Anggaplah ini sama halnya mengunjungi rumah sendiri dan mengakrapinya. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Peristiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan di luar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Profil Singkat Organisasi
Sanggar Seni Lentera
Dengan bermodalkan pengalaman, semangat, kemauan, keberanian dan kemampuan, Musa Abdul Kadir, Husen Abdul Kadir, Petrus. Mendirikan organisasi seni yang diberi nama Sanggar Seni Lentera (SSL). Tepatnya ditahun 1993. Ketiga pendiri menyatukan idiologi merangkum segala unsur seni baik teater, musik dan tari. Pengalaman membentuk pendewasaan diri untuk bepikir, berbuat, dan bertindak dalam mengambil keputusan dengan bijak. Pengalaman pula yang menentukan perbedaan ciri khas yang melahirkan teknik dan gaya pemanggungan. Dari pengalaman inilah lahir pengkayaan seni yang tumbuh dan berkembang di Kota Palu. SSL dengan pengalamannya memberanikan diri mengepakkan sayap mengajarkan pengetahuan seni ke tingkat Sekolah Menengah Atas, antara lain SMKN 3, SMKN 2, SMKN 1, SMAN 3 dan perekrutan anggota baru yang dianggap berkompoten di bidangnya. Kemudian dikukuhkan menjadi anggota SSL, yang nantinya mengajarkan seni di sekolahnya masing-masing. Lahirnya keinginan ini, disebabkan kian maraknya tauran antar sekolah. Maka kami memutuskan untuk terjun langsung di beberapa sekolah yang rawan akan konflik dan mendidik para siswa/siswi mengasa kemampuan daya khayalnya untuk mencipta karya seni. SSL dikenal sebagai dapur seni, yang melahirkan generasi muda yang sebelumnya awam tentang kesenian sampai pada akhirnya mampu untuk mandiri mencari jati diri.
Beberapa repertoar pertunjukan teater (historiografi) yang pernah diproduksi antara lain :
2000 : “AUM” karya Putu Wijya
1999 : “RAJA MAHDIA” karya Irwan Pangeran
2000 : “WARNA-WARNI” karya Irwan Pangeran
2002 : “KEPALA BATU BATU KEPALA” kaya Toto dan Naim, Dj
2002 : “BELENGGU AIR” karya Toto
2003 : ”TOMANURU” karya Ria/Musa
2002 : “TAIGANJA” karya Musa
“SANDO” karya Hidayat Lembang
2001 : ”PRAHARA GERILYA” karya Musa
: ”DOR” karya Putu Wijaya
2010 : “BOS” Karya M. Noerdianza
2010 : “TOPOGENTE” Karya Ashar Yotomaruangi
2011 : “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo
2011 : “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto
2011 : “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi
Latar Belakang pengarang
.??????????
3. Analisis Lakon
Setelah melakukan penggalian latar belakang pengarang ditemukan bahwa naskah drama “Imangge Mpobilisi” ditulis di Palu pada tahun .... Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan di Gedung tertutup Taman Budaya dalam rangka “Technokrat Art Show 2010”, tetapi sangat disayangkan bahasa kaili kehilangan makna dan keunikan pengucapannya karena dibenturkan dengan bahasa Indonesia, sehingga pertunjukan berbahasa kaili kehilangan ruh dan keunikan serta warna dan bentuknya ketika dibenturkan dengan bahasa Indonesia. Patut diketahui bahwa Inti dari segala kemajuan adalah terbangunnya watak. Ini bukan keegoan diri melainkan sebagai penghargaan terhadap leluhur yang telah menelurkan kepada kita dan kita patut mengangkatnya kepermukaan, menjaga serta melestarikannya.
Dari penelitian ini dapat dilacak bahwa naskah drama “I mangge Mpobilisi” gaya penulisannya komedi satir, mengangkat realitas sosial suku Kaili, (aliran realis suryalis) Karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Karya seni bersifat luas, peristiwa dan peran yang dipentaskan harus melambangkan dan “mengandung” unsur universal (sifat umum) dalam metode atau cara individu, yaitu unsur yang khas manusiawi yang seolah-olah berlaku pada segala masa dan segala tempat. Dengan begitu karya seni diharapkan menjadi lambang atau simbol yang maknanya harus dapat ditemukan dan dikenali oleh si penggemar karya seni itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri entah ia dalam posisi sebagai sutradara, pemain, ataupun penonton. Sebelum menganalisis struktur dan tekstur yang terkandung dalam naskah drama “I mangge Mpobilisi” karya Ashar Yotomaruangi.
“I mangge Mpobilisi” Dalam bahasa Kaili I penegasan dia laki-laki, kata Paman dipanggil dengan sebutan Mangge, sementara Mpobilisi, yakni selalu marah. Secara etimologis atau asal kata “I mangge Mpbilisi” yaitu paman yang selalu marah-marah.
Analisis untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik. Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.
Analisis Struktur
Plot/ alur
Alur dalam naskah drama “I mangge mpobilisi” tiga babak Awal,tengah, akhir. Naskah drama karya Ashar Yotomaruangi ini menyinggung realitas sosial masyarakat suku kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah. Sifat dan watak orang-orang Kaili yang keras dan tegas dan sangat disegani warga kampung sekitar, namun sebenarnya dibalik kekerasan dan ketegasannya tersimpan sifat perhatian dan kelembutan yang begitu besar daripada sifat kekerasannya. Lebih parahnya lagi, I mangge tukang tidur, setiap warga yang datang ribut-ribut di saat I mangge tertidur, jangan coba-coba, kau akan dimarahinya. I mangge memiliki seorang anak laki-laki bernama Yojo, yang sedang melakukan studi di Jakarta, di Jakarta Yojo bertemu dengan Enge juga sekampung dengan Yojo. Setelah Yojo dan Enge menyelesaikan studinya di Jakarta, Yojo dan Enge segera pulang ke kampung halaman bersama-sama dan mengajak Enge silaturahmi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, warga kampung menjemput kehadirannya. Tetapi sayang karena merasa gengsi baru pulang dari Ibu Kota Jakarta, Yojo berpura-pura tidak mengenal warga kampung sekitar. Lebih parahnya lagi Yojo dan Enge sudah melupakan adatnya, kehilangan etika berbicara dengan dialeg Jakarta dengan I Mangge dan Ina (istri I mangge). Karena merasa kesal mendengar Yojo berbicara ala Jakarta yang semakin membingungkan I Mangge, akhirnya I Mangge naik pitam, dan memukul Yojo dengan cambuk kuda, karena tidak tahan dengan rasa sakit Yojo langsung refleks memeluk kaki I Mangge sambil memohon ampun dengan bahasa Kaili. Karena takut Enge juga meminta ampun dengan bahasa Kaili. Emosi I mangge mulai redah, dan membujuk Yojo untuk menikah dengan Dei. Tetapi Yojo tidak mau dijodohkan dengan Dei, Yojo tetap berkeras lebih memilih Enge, I mangge kembali marah karena Yojo tidak mendengarkan perintahnya dan mengusir Yojo dari rumahnya..akhirnya Yojo pergi meninggalkan rumahnya dengan tangis kesedihan, baru berapa langkah meninggalkan rumah I mangge terjatuh karena sakit jantung yang dideritanya, Yojo berbalik sambil berlari menghampiri I mangge sambil memeluk I mangge dengan tangisan dan penyesalan yang mendalam.
Karakter
Imangge
Psikologisnya :Tegas dan keras
Sosiologis : Orang terpandang dan disegani dikampungnya, memiliki berhektar tanah, akhirnya jatuh
miskin
Fisiologis : Umur 50 tahun, kekar, berkumis panjang,
Tinana (istri Mangge)
Psikologis : Penyayang, keras,
Sosiologis : Ibu rumah tangga
Fisiologis :Umur 43 tahun, gemuk, kulit saumatanag
Yojo
Psikologis : Penakut dan sombong
Sosiologis : Seorang mahasiswa
Fisiologis : Umur 25 tahun, kukit kuning langsat, rambut hitam lurus, hidung tinggi.
Dei
Psikologis : Penakut
Sosiologis : Kelas menengah, seorang mahasiswa
Fisiologis :Tinggi kurus, Umur 24 tahun, hidung pesek, kulit kuning langsat,rambut lurus panjang.
Tambako1
Tambako 2
Kabilasa 1
Kabilasa 2
Kobilasa 3
Tema
“Akibat derasnya arus globalisasi adat terlupakan”
Analisis Tekstur Lakon
Naskah drama adalah pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir naskah terlebih dahulu memahami tekstur. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.
Dialog
Drama ini memperlihatkan suatu gaya penulisan dengan ungkapan keseharian. Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama. Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah.
Mood
Mood adalah suasana. Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik. Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya. Penghadiran suasana dalam naskah drama “Imangge Mpobilisi” suasana perkampungan menggambarkan aktivitas keseharian warga kampung yang terlihat polos dan jujur bahkan terlihan over akting..
Spektakel
Melalui pencermatan naskah drama “Imangge Mpobilisi” Spektakel terdapat pada Set panggung dan dialeg aktor yang menggunakan bahasa Kaili.
Realis Surealis
Realisme
Realisme dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir. Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran objektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula. Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987). Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan. Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme..
Surealisme
Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an. Surealisme merupakan seni dan penulisan yang paling banyak dikenal. Karya ini memiliki unsur kejutan, barang tak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Karya tersebut merupakan artefak, dan André Breton mengatakan bahwa surealisme berada di atas segala gerakan revolusi. Dari aktivitas Dadaisme, surealisme dibentuk dengan pusat gerakan terpentingnya di Paris. Dari tahun 1920-an aliran ini menyebar ke seluruh dunia. Surealisme memengaruhi film seperti Angel's Egg dan El Topo. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire dalam catatan program yang menjelaskan balet Parade, yang merupakan karya kolaboratif oleh Jean Cocteau, Erik Satie, Pablo Picasso dan Léonide Massine: "Dari persekutuan baru ini, hingga sekarang, perlengkapan dan kostum panggung di satu sisi dan koreografi di sisi lain hanya ada persekutuan pura-pura di antara mereka, terjadi sejenis super-realisme ('sur-réalisme') di Parade, di mana saya melihat titik mula serangkaian manifestasi semangat baru ini.
“I mangge Mpobilisi”
Karya Ashar Yotomaruangi Sutradara M.Noerdianza
Nampaknya kehidupan tradisi kita kian rapuh
begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pertunjukan
baik teater, musik, tari, yang mengangkat kebudayaan lokal
dan kurang mendapatkan perhatian
Sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?
Adakah tradisi yang kita agul-agulkan yang selalu membuat diri kita menepuk dada sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai adiluhung
sebagai khasanah kehidupan kita masih berfungsi untuk menahan laju, atau minimal menciptakan suatu cara berpikir kritis, jernih, dan mendalam demi kemajuan seni dan kebudayaan lokal
Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. berangkat dari motto inilah pertunjukan berbahasa kaili akan dipentaskan, sebab bahasa tidak lepas dari ciri, watak, yang menggambarkan kepribadian diri seseorang di mana ia lahir dan dibesarkan. Teater berbahasa kaili tentunya masih begitu asing untuk dipentaskan, mengingat kota Palu tidak hanya didiami suku kaili saja. Hal tersebut bukanlah kendala melainkan motivasi dan tugas kita bersama mengangkat bahasa kaili kepermukaan. Kita harus berani bermimpi, karena dengan mimpi kita akan terus terpacu unuk melakukan berbagai hal (Rusdi Mastura, 2011: 94).
Peristiwa teater selama ini hanya berpusat di kota tanpa melibatkan masyarakan pinggiran kota. Dengan adanya teater berbahasa kaili yang terjun ke desa-desa, kaki-kaki gunung, sudah barang tentu akan lebih mempererat psikologis dan sosiologis dengan masyarakat setempat. Beberapa alasan dan opini di atas yang sebenarnya menjadi kegelisahan, stimulan sekaligus motivasi Sanggar Seni Lentera untuk kembali membuat pementasan. Maka untuk menjawab kerinduan publik teater di Kota Palu, SSL akan muncul dengan produksi teater berbahasa Kaili. SSL kembali menyuguhkan dengan format ”Teater Berbahasa Kaili” dengan konsep ruang pemanggungan out door,
Pertunjukan Teater berbahasa Kaili dengan juduI “I Mangge Pobilisi” karya Ashar Yotomaruangi akan dipentaskan keliling dari kampung ke kampung. Pilihan tempat pementasan Sanggar Seni Lentera out door setting yang digunakan merespon ruang yang ada. Anggaplah ini sama halnya mengunjungi rumah sendiri dan mengakrapinya. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Peristiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan di luar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Profil Singkat Organisasi
Sanggar Seni Lentera
Dengan bermodalkan pengalaman, semangat, kemauan, keberanian dan kemampuan, Musa Abdul Kadir, Husen Abdul Kadir, Petrus. Mendirikan organisasi seni yang diberi nama Sanggar Seni Lentera (SSL). Tepatnya ditahun 1993. Ketiga pendiri menyatukan idiologi merangkum segala unsur seni baik teater, musik dan tari. Pengalaman membentuk pendewasaan diri untuk bepikir, berbuat, dan bertindak dalam mengambil keputusan dengan bijak. Pengalaman pula yang menentukan perbedaan ciri khas yang melahirkan teknik dan gaya pemanggungan. Dari pengalaman inilah lahir pengkayaan seni yang tumbuh dan berkembang di Kota Palu. SSL dengan pengalamannya memberanikan diri mengepakkan sayap mengajarkan pengetahuan seni ke tingkat Sekolah Menengah Atas, antara lain SMKN 3, SMKN 2, SMKN 1, SMAN 3 dan perekrutan anggota baru yang dianggap berkompoten di bidangnya. Kemudian dikukuhkan menjadi anggota SSL, yang nantinya mengajarkan seni di sekolahnya masing-masing. Lahirnya keinginan ini, disebabkan kian maraknya tauran antar sekolah. Maka kami memutuskan untuk terjun langsung di beberapa sekolah yang rawan akan konflik dan mendidik para siswa/siswi mengasa kemampuan daya khayalnya untuk mencipta karya seni. SSL dikenal sebagai dapur seni, yang melahirkan generasi muda yang sebelumnya awam tentang kesenian sampai pada akhirnya mampu untuk mandiri mencari jati diri.
Beberapa repertoar pertunjukan teater (historiografi) yang pernah diproduksi antara lain :
2000 : “AUM” karya Putu Wijya
1999 : “RAJA MAHDIA” karya Irwan Pangeran
2000 : “WARNA-WARNI” karya Irwan Pangeran
2002 : “KEPALA BATU BATU KEPALA” kaya Toto dan Naim, Dj
2002 : “BELENGGU AIR” karya Toto
2003 : ”TOMANURU” karya Ria/Musa
2002 : “TAIGANJA” karya Musa
“SANDO” karya Hidayat Lembang
2001 : ”PRAHARA GERILYA” karya Musa
: ”DOR” karya Putu Wijaya
2010 : “BOS” Karya M. Noerdianza
2010 : “TOPOGENTE” Karya Ashar Yotomaruangi
2011 : “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo
2011 : “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto
2011 : “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi
Latar Belakang pengarang
.??????????
3. Analisis Lakon
Setelah melakukan penggalian latar belakang pengarang ditemukan bahwa naskah drama “Imangge Mpobilisi” ditulis di Palu pada tahun .... Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan di Gedung tertutup Taman Budaya dalam rangka “Technokrat Art Show 2010”, tetapi sangat disayangkan bahasa kaili kehilangan makna dan keunikan pengucapannya karena dibenturkan dengan bahasa Indonesia, sehingga pertunjukan berbahasa kaili kehilangan ruh dan keunikan serta warna dan bentuknya ketika dibenturkan dengan bahasa Indonesia. Patut diketahui bahwa Inti dari segala kemajuan adalah terbangunnya watak. Ini bukan keegoan diri melainkan sebagai penghargaan terhadap leluhur yang telah menelurkan kepada kita dan kita patut mengangkatnya kepermukaan, menjaga serta melestarikannya.
Dari penelitian ini dapat dilacak bahwa naskah drama “I mangge Mpobilisi” gaya penulisannya komedi satir, mengangkat realitas sosial suku Kaili, (aliran realis suryalis) Karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Karya seni bersifat luas, peristiwa dan peran yang dipentaskan harus melambangkan dan “mengandung” unsur universal (sifat umum) dalam metode atau cara individu, yaitu unsur yang khas manusiawi yang seolah-olah berlaku pada segala masa dan segala tempat. Dengan begitu karya seni diharapkan menjadi lambang atau simbol yang maknanya harus dapat ditemukan dan dikenali oleh si penggemar karya seni itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri entah ia dalam posisi sebagai sutradara, pemain, ataupun penonton. Sebelum menganalisis struktur dan tekstur yang terkandung dalam naskah drama “I mangge Mpobilisi” karya Ashar Yotomaruangi.
“I mangge Mpobilisi” Dalam bahasa Kaili I penegasan dia laki-laki, kata Paman dipanggil dengan sebutan Mangge, sementara Mpobilisi, yakni selalu marah. Secara etimologis atau asal kata “I mangge Mpbilisi” yaitu paman yang selalu marah-marah.
Analisis untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik. Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.
Analisis Struktur
Plot/ alur
Alur dalam naskah drama “I mangge mpobilisi” tiga babak Awal,tengah, akhir. Naskah drama karya Ashar Yotomaruangi ini menyinggung realitas sosial masyarakat suku kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah. Sifat dan watak orang-orang Kaili yang keras dan tegas dan sangat disegani warga kampung sekitar, namun sebenarnya dibalik kekerasan dan ketegasannya tersimpan sifat perhatian dan kelembutan yang begitu besar daripada sifat kekerasannya. Lebih parahnya lagi, I mangge tukang tidur, setiap warga yang datang ribut-ribut di saat I mangge tertidur, jangan coba-coba, kau akan dimarahinya. I mangge memiliki seorang anak laki-laki bernama Yojo, yang sedang melakukan studi di Jakarta, di Jakarta Yojo bertemu dengan Enge juga sekampung dengan Yojo. Setelah Yojo dan Enge menyelesaikan studinya di Jakarta, Yojo dan Enge segera pulang ke kampung halaman bersama-sama dan mengajak Enge silaturahmi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, warga kampung menjemput kehadirannya. Tetapi sayang karena merasa gengsi baru pulang dari Ibu Kota Jakarta, Yojo berpura-pura tidak mengenal warga kampung sekitar. Lebih parahnya lagi Yojo dan Enge sudah melupakan adatnya, kehilangan etika berbicara dengan dialeg Jakarta dengan I Mangge dan Ina (istri I mangge). Karena merasa kesal mendengar Yojo berbicara ala Jakarta yang semakin membingungkan I Mangge, akhirnya I Mangge naik pitam, dan memukul Yojo dengan cambuk kuda, karena tidak tahan dengan rasa sakit Yojo langsung refleks memeluk kaki I Mangge sambil memohon ampun dengan bahasa Kaili. Karena takut Enge juga meminta ampun dengan bahasa Kaili. Emosi I mangge mulai redah, dan membujuk Yojo untuk menikah dengan Dei. Tetapi Yojo tidak mau dijodohkan dengan Dei, Yojo tetap berkeras lebih memilih Enge, I mangge kembali marah karena Yojo tidak mendengarkan perintahnya dan mengusir Yojo dari rumahnya..akhirnya Yojo pergi meninggalkan rumahnya dengan tangis kesedihan, baru berapa langkah meninggalkan rumah I mangge terjatuh karena sakit jantung yang dideritanya, Yojo berbalik sambil berlari menghampiri I mangge sambil memeluk I mangge dengan tangisan dan penyesalan yang mendalam.
Karakter
Imangge
Psikologisnya :Tegas dan keras
Sosiologis : Orang terpandang dan disegani dikampungnya, memiliki berhektar tanah, akhirnya jatuh
miskin
Fisiologis : Umur 50 tahun, kekar, berkumis panjang,
Tinana (istri Mangge)
Psikologis : Penyayang, keras,
Sosiologis : Ibu rumah tangga
Fisiologis :Umur 43 tahun, gemuk, kulit saumatanag
Yojo
Psikologis : Penakut dan sombong
Sosiologis : Seorang mahasiswa
Fisiologis : Umur 25 tahun, kukit kuning langsat, rambut hitam lurus, hidung tinggi.
Dei
Psikologis : Penakut
Sosiologis : Kelas menengah, seorang mahasiswa
Fisiologis :Tinggi kurus, Umur 24 tahun, hidung pesek, kulit kuning langsat,rambut lurus panjang.
Tambako1
Tambako 2
Kabilasa 1
Kabilasa 2
Kobilasa 3
Tema
“Akibat derasnya arus globalisasi adat terlupakan”
Analisis Tekstur Lakon
Naskah drama adalah pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir naskah terlebih dahulu memahami tekstur. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.
Dialog
Drama ini memperlihatkan suatu gaya penulisan dengan ungkapan keseharian. Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama. Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah.
Mood
Mood adalah suasana. Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik. Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya. Penghadiran suasana dalam naskah drama “Imangge Mpobilisi” suasana perkampungan menggambarkan aktivitas keseharian warga kampung yang terlihat polos dan jujur bahkan terlihan over akting..
Spektakel
Melalui pencermatan naskah drama “Imangge Mpobilisi” Spektakel terdapat pada Set panggung dan dialeg aktor yang menggunakan bahasa Kaili.
Realis Surealis
Realisme
Realisme dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir. Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran objektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula. Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987). Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan. Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme..
Surealisme
Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an. Surealisme merupakan seni dan penulisan yang paling banyak dikenal. Karya ini memiliki unsur kejutan, barang tak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Karya tersebut merupakan artefak, dan André Breton mengatakan bahwa surealisme berada di atas segala gerakan revolusi. Dari aktivitas Dadaisme, surealisme dibentuk dengan pusat gerakan terpentingnya di Paris. Dari tahun 1920-an aliran ini menyebar ke seluruh dunia. Surealisme memengaruhi film seperti Angel's Egg dan El Topo. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire dalam catatan program yang menjelaskan balet Parade, yang merupakan karya kolaboratif oleh Jean Cocteau, Erik Satie, Pablo Picasso dan Léonide Massine: "Dari persekutuan baru ini, hingga sekarang, perlengkapan dan kostum panggung di satu sisi dan koreografi di sisi lain hanya ada persekutuan pura-pura di antara mereka, terjadi sejenis super-realisme ('sur-réalisme') di Parade, di mana saya melihat titik mula serangkaian manifestasi semangat baru ini.
Monday, May 23, 2011
“PARADE KARYA TARI DAERAH 2011 KEHILANGAN KEDAERAHANNYA”
M. Noerdianza
Parade Tari Daerah adalah program tahunan Dinas Pariwisata Propinsi, cukup mendapat respon positif dari para kreografer Kota dan Kabupaten di Sulawesi Tengah. Pertarungan ide yang positif membuat seni tari di Sulawesi Tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Konon kabarnya, kota Palu dulunya sebagai barometer kesenian bagi para pecinta seni di Kabupaten, kini bergeser seratus delapan puluh derajat, terbukti pada parade teater tahun lalu tepatnya di tahun 2010, garapan terbaik satu di berikan kepada Buol, terbaik dua Luwuk, dan terbaik tiga jatuh ke Kabupaten Poso. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan, apa gerangan yang terjadi. Apakah para kreografer tari dan para penarinya kehilangan semangat mengembangkan seni budayanya, atau karena persoalan klasik yang terus - menerus terjadi antara birokrasi terkait dan senimannya.
“Masa bodoh, seberapa jauh kau mencintai dan memahami tradisi di Daerahmu, tunjukan dulu konsep karyamu baru boleh menuntut .!”
Atau karena seniman tari sendiri belum memahami betul seni budaya tradisi di Daerahnya, atau karena pengaruh derasnya arus globalisasi mengalir begitu cepat kekehidupan sosial kita, sehingga pemikiran-pemikiran kita tentang tradisi terkikis sedikit demi sedikit lalu lenyap begitu saja. Atau hanya karena mencari nama semata biar dibilang kreografer tari. Kasihan...
Para kreografer tari patut dipertanyakan tentang kemampuan pemahaman tari, tidak hanya sebatas penciptaan gerak, levelitas dan komposisi saja, melainkan konsep sebuah garapan, contoh kasus yang terjadi pada “Parade Karya Tari Daerah Tahun 2010,” Kabupaten Buol kehilangan kedaerahannya, yang muncul malahan budaya jawa; nampak dari kostum, make up, dan gaya komedialnya, sementara gaya penarinya pun ala Semar. Harus dipertanyakan, apakah ini parade tari Daerah Sulawesi Tengah atau Parade Tari JaSu (Jawa Sulawesi). Istilah modernnya “cross culture” (silang budaya), kalau memang demikian, konsep temanya harus diperjelas dong.
Paling menariknya lagi tidak pernah ada di temukan di Indonesia, adalah sikap kekeluargaan tradisi daerah yang begitu kental, sehingga garapan-garapan tari daerah bisa diwakili siapa saja. Donggala mayoritas penari dan kreografer orang Palu, Bangkep juga mayoritas orang Palu. Parigi juga demikian. Tidak ada salahnya jika demikian, tetapi yang menjadi persoalan para kreografer tari belum memahami budaya lokal daerah tertentu. Timbul lagi sebuah pertanyaan kenapa bisa demikian? Ya, tidak lain tidak bukan, untuk penghematan dana buat pembeli susu. Apakah sikap demikian patut dikatakan sebagai seniman/budayawan Kota Palu. Tidak salah lagi, bahwa “Parade Karya Tari Daerah” bukan ajang pencarian minat bakat generasi sebagai pondasi dan tonggak tumbuh dan berkembangnya tradisi budaya lokal daerah setempat. Melainkan dijadikan sebagai ajang Proyektor (proyek kotor)..para birokrasi tertentu.
Kalau memang Parade Karya Tari daerah konsumsinya Pariwisata ya tunjukanlah budaya lokal kedaerahanmu, bedahalnya dengan festival tari kreasi Daerah yang lebih menonjolkan kreativitas yang tentunya berangkat dari tradisi budaya lokal, sebab kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.
Semoga ke depan gerakan kesenian berbasis lokal dapat mejadi perhatian bersama, yaitu sisi penyiapan sosial komunitas (social preparation) sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community Development) dan pengembangan ekonominya (economy development). Upaya ini harus mampu mendorong masyarakat bangkit dan berubah
Parade Tari Daerah adalah program tahunan Dinas Pariwisata Propinsi, cukup mendapat respon positif dari para kreografer Kota dan Kabupaten di Sulawesi Tengah. Pertarungan ide yang positif membuat seni tari di Sulawesi Tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Konon kabarnya, kota Palu dulunya sebagai barometer kesenian bagi para pecinta seni di Kabupaten, kini bergeser seratus delapan puluh derajat, terbukti pada parade teater tahun lalu tepatnya di tahun 2010, garapan terbaik satu di berikan kepada Buol, terbaik dua Luwuk, dan terbaik tiga jatuh ke Kabupaten Poso. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan, apa gerangan yang terjadi. Apakah para kreografer tari dan para penarinya kehilangan semangat mengembangkan seni budayanya, atau karena persoalan klasik yang terus - menerus terjadi antara birokrasi terkait dan senimannya.
“Masa bodoh, seberapa jauh kau mencintai dan memahami tradisi di Daerahmu, tunjukan dulu konsep karyamu baru boleh menuntut .!”
Atau karena seniman tari sendiri belum memahami betul seni budaya tradisi di Daerahnya, atau karena pengaruh derasnya arus globalisasi mengalir begitu cepat kekehidupan sosial kita, sehingga pemikiran-pemikiran kita tentang tradisi terkikis sedikit demi sedikit lalu lenyap begitu saja. Atau hanya karena mencari nama semata biar dibilang kreografer tari. Kasihan...
Para kreografer tari patut dipertanyakan tentang kemampuan pemahaman tari, tidak hanya sebatas penciptaan gerak, levelitas dan komposisi saja, melainkan konsep sebuah garapan, contoh kasus yang terjadi pada “Parade Karya Tari Daerah Tahun 2010,” Kabupaten Buol kehilangan kedaerahannya, yang muncul malahan budaya jawa; nampak dari kostum, make up, dan gaya komedialnya, sementara gaya penarinya pun ala Semar. Harus dipertanyakan, apakah ini parade tari Daerah Sulawesi Tengah atau Parade Tari JaSu (Jawa Sulawesi). Istilah modernnya “cross culture” (silang budaya), kalau memang demikian, konsep temanya harus diperjelas dong.
Paling menariknya lagi tidak pernah ada di temukan di Indonesia, adalah sikap kekeluargaan tradisi daerah yang begitu kental, sehingga garapan-garapan tari daerah bisa diwakili siapa saja. Donggala mayoritas penari dan kreografer orang Palu, Bangkep juga mayoritas orang Palu. Parigi juga demikian. Tidak ada salahnya jika demikian, tetapi yang menjadi persoalan para kreografer tari belum memahami budaya lokal daerah tertentu. Timbul lagi sebuah pertanyaan kenapa bisa demikian? Ya, tidak lain tidak bukan, untuk penghematan dana buat pembeli susu. Apakah sikap demikian patut dikatakan sebagai seniman/budayawan Kota Palu. Tidak salah lagi, bahwa “Parade Karya Tari Daerah” bukan ajang pencarian minat bakat generasi sebagai pondasi dan tonggak tumbuh dan berkembangnya tradisi budaya lokal daerah setempat. Melainkan dijadikan sebagai ajang Proyektor (proyek kotor)..para birokrasi tertentu.
Kalau memang Parade Karya Tari daerah konsumsinya Pariwisata ya tunjukanlah budaya lokal kedaerahanmu, bedahalnya dengan festival tari kreasi Daerah yang lebih menonjolkan kreativitas yang tentunya berangkat dari tradisi budaya lokal, sebab kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.
Semoga ke depan gerakan kesenian berbasis lokal dapat mejadi perhatian bersama, yaitu sisi penyiapan sosial komunitas (social preparation) sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community Development) dan pengembangan ekonominya (economy development). Upaya ini harus mampu mendorong masyarakat bangkit dan berubah
Thursday, May 19, 2011
pertunjukan "Galilei"
“KEHIDUPAN GALILEI”
Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo Sutradara M. Noerdianza
A. Latar Belakang
Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di Kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.
Setelah sukses mementaskan lakon “BOS” karya M. Noerdianza di Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah dan “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi di Cak Durasim Surabaya.tahun 2010. SSL akan kembali mementaskan dua karya dalam semalam, dalam lakon “Diam” dan “Kehidupan Galilei”
Potret Galileo Galilei
Galileo Galilei lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak ,masa kecil, kemudian ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronom sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.
Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung Galilei Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengancam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus
Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622 yang kemudian diterbitkan pada 1623, pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo Sopra I due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno a due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total.
Galileo Galilei meninggal ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya di Arcetri, Toscana, pada 8 Januari 1642 pada umur 77 Tahun Galileo adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiyah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi dan hukum gerak pertama dan kedua dinamika. Selain itu, Galileo Galilei juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernikus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan dijauhkan kepengadilan gereja Italia tanggal, 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan tahanan rumah sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa gereja katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi iya telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat dibelanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3 x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. pada 25 agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk untuk membuat pelayaran. Pengamatan astronomnya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610 berjudul Sidereus Nuncius
Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter- Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610, empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede, ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.
Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom TiongHoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada dipermukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan adalah bola sempurna. Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.
Nicolaus Copernicus
Lahir di kota Torun, Polandia, 19 Februari 1473 wafat di kota Frombork, Polandia, 24 Mei 1543 pada usia 70 tahun adalah seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrime, yaitu teori yang berpendapat bahwa matahari bersifat stasioner posisinya tetap dan berada pada pusat alam semesta. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, telah menjungkirbalikan teori geosentrisme, yaitu teori yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus ini dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan ilmu pengetahuan modern. Teori ini menimbulkan revolusi ilmiah.
Biografi Pengarang
Tanggal 14 Agustus 1956 Bertolt Brecht meninggal pada usia 58 tahun. Penyair Jerman dengan nama lengkap Eugen Bertolt Friedrich Brecht ini lahir di kota Augsburg pada 10 Februari 1898. Ia anak seorang direktur perusahaan kertas. Pada awal kariernya, yakni ketika ia berusia 14 tahun sudah menulis sajak dengan judul Pohon yang Terbakar (Derbrennende Baum). Kemudian dengan menggunakan Pseudonim Eugen Brecht ia tulis naskah drama berjudul alkitab (Die Bibel) pada majalah sekolah Die Ernte.
Pada perang dunia 1 pecah tahun 1914, Brecht masih duduk di SMA dan mulai aktif menuliskan sajak-sajak patriotik, juga pada lembaran-lembaran kartu pos. Pada tahun yang sama sejak Brecht pertama kali dimuat koran local Augsburger Neuesten Nachrichten. Ketika Brecht menginjak usia 16 tahun telah menulis sajak sindiran untuk orang-orang kaya termasuk keluarganya. Sajak yang pernah dipublikasikan tersebut sebagai berikut : Aku lahir sebagai anak laki-laki/orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, begitulah aku dididik/kebiasaan yang selalu dilayani/dan diajari cara memerintah. Tapi/setelah aku dewasa dan bisa sadar diri/tak tertarik orang-orang disekitarku/tak mau memerintah dan diperintah/dan aku tinggalkan kelasku, lalu menggabungkan diri dengan rakyat biasa.
Di bangku SMA, Brecht dikenal sebagai siswa yang bandel, bahkan dijuluki oleh gurunya sebagai Enfant Terrible.setamat SMA Brecht melanjutkan kuliah mengambil jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian Munich. Kuliahnya pun akhirnya gagal, karena ia tak pernah masuk, di samping suasana perang makin mencekam. Menurut kritikus sastra di jerman, Marcel Reich-Ranicki pada bukunya berjudul Nachprufung (Menguji ulang), bahwa karya drama Brecht sering di pengaruhi oleh latar Negara yang berbeda.
Misalnya, drama yang pertama kali diakui publik berjudul “Mann ist Mann” (Lelaki adalah Lelaki) terpengaruh latar india. Drama berlatar Rusia berjudul “Mutter” (ibu). Drama berlatar London berjudul “Dreigrochenoper” (tiga opera picisan), sedang drama berlatar Chicago berjudul “Heilige” Johanna (yohanna yang suci). Proses kreatif Brecht menurut Ranicki, ia tak hanya genius, namun juga bekerja cepat secara terus menerus. Naskah yang sudah jadi, sering kali dicoret dan dibuang. Bagi Brecht pementasan drama di panggung ibarat sebuah potret. Dan potret itu harus bisa dilihat penonton dengan sangat jernih. Sebab itu Brecht dikenal seorang dramaturgi yang jeli melihat setiap mimik, gerak tubuh, kata, serta sosok. Dengan kata lain pementasan di panggung harus seindah puisi. Drama menurutnya sebagai forum berdebat dan bukan sebagai tempat ilusi belaka.
Pada tahun 1920 ibu Brecht meninggal dan sejak itu ia pergi dari rumahnya serta menyewa apartement di Munich bersama Marianne Zoff, penyanyi asal sekotanya Augsburg. Pada tahun 1922 mereka kawin. Pada tahun 1923 pasangan ini dikaruniai anak perempuan bernama Hanne Marianne. Ketika anaknya meninggal, Brecht marah dan mengumpat, Ruh sudah turun dari Marianne Zoff…,sundel ini harusnya tak punya anak, anaku berasal darinya, tapi ia tak memiliki hati yang bersih. Pada tahun 1927 pasangan ini cerai. Zoff kala itu menjadi pemain drama terkenal. Tak hanya Goethe sebagai penyair yang digemari banyak perempuan hingga punya delapan pacar. Brecht pun demikian. Ia dikelilingi banyak perempuan. Salah satu yang memikat hatinya adalah, seorang perempuan Yahudi juga pemain drama bernama Helene Weigel.
Pada tahun1928 ia kawin dengan Weigel. Dua tahun kemudian pasangan baru ini mendapat seorang pasangan bernama Maria Barbara.
Brecht tergolong penyair dan dramaturgi yang sangat produktif. Beberapa naskah dramannya yang paling sering mendapat banyak pujian masyarakat luas berjudul Baal, Trommel in der Nacht (Genderang Malam), dan Dreigroschenoper (Tiga Opera Picisan), Lebendes Galilei (Kehidupan Galilei), serta Mutter Courage und ihre Kinder ( Ibu Courage dan Anak-anaknya). Akan tetapi Gerhard Szczesny pada bukunya berjudul Brecht, Leben des Galilei mengkritik Brecht, kalau Brecht telah membelokan alur kehidupan Galilei ke dalam kehidupannya sendiri.
Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht
Terjemahan Frans Rahardjo Sutradara M. Noerdianza
A. Latar Belakang
Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di Kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.
Setelah sukses mementaskan lakon “BOS” karya M. Noerdianza di Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah dan “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi di Cak Durasim Surabaya.tahun 2010. SSL akan kembali mementaskan dua karya dalam semalam, dalam lakon “Diam” dan “Kehidupan Galilei”
Potret Galileo Galilei
Galileo Galilei lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak ,masa kecil, kemudian ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronom sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.
Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung Galilei Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengancam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus
Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622 yang kemudian diterbitkan pada 1623, pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo Sopra I due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno a due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total.
Galileo Galilei meninggal ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya di Arcetri, Toscana, pada 8 Januari 1642 pada umur 77 Tahun Galileo adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiyah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi dan hukum gerak pertama dan kedua dinamika. Selain itu, Galileo Galilei juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernikus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan dijauhkan kepengadilan gereja Italia tanggal, 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan tahanan rumah sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa gereja katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi iya telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat dibelanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3 x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. pada 25 agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk untuk membuat pelayaran. Pengamatan astronomnya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610 berjudul Sidereus Nuncius
Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter- Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610, empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede, ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.
Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom TiongHoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada dipermukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan adalah bola sempurna. Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.
Nicolaus Copernicus
Lahir di kota Torun, Polandia, 19 Februari 1473 wafat di kota Frombork, Polandia, 24 Mei 1543 pada usia 70 tahun adalah seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrime, yaitu teori yang berpendapat bahwa matahari bersifat stasioner posisinya tetap dan berada pada pusat alam semesta. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, telah menjungkirbalikan teori geosentrisme, yaitu teori yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus ini dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan ilmu pengetahuan modern. Teori ini menimbulkan revolusi ilmiah.
Biografi Pengarang
Tanggal 14 Agustus 1956 Bertolt Brecht meninggal pada usia 58 tahun. Penyair Jerman dengan nama lengkap Eugen Bertolt Friedrich Brecht ini lahir di kota Augsburg pada 10 Februari 1898. Ia anak seorang direktur perusahaan kertas. Pada awal kariernya, yakni ketika ia berusia 14 tahun sudah menulis sajak dengan judul Pohon yang Terbakar (Derbrennende Baum). Kemudian dengan menggunakan Pseudonim Eugen Brecht ia tulis naskah drama berjudul alkitab (Die Bibel) pada majalah sekolah Die Ernte.
Pada perang dunia 1 pecah tahun 1914, Brecht masih duduk di SMA dan mulai aktif menuliskan sajak-sajak patriotik, juga pada lembaran-lembaran kartu pos. Pada tahun yang sama sejak Brecht pertama kali dimuat koran local Augsburger Neuesten Nachrichten. Ketika Brecht menginjak usia 16 tahun telah menulis sajak sindiran untuk orang-orang kaya termasuk keluarganya. Sajak yang pernah dipublikasikan tersebut sebagai berikut : Aku lahir sebagai anak laki-laki/orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, begitulah aku dididik/kebiasaan yang selalu dilayani/dan diajari cara memerintah. Tapi/setelah aku dewasa dan bisa sadar diri/tak tertarik orang-orang disekitarku/tak mau memerintah dan diperintah/dan aku tinggalkan kelasku, lalu menggabungkan diri dengan rakyat biasa.
Di bangku SMA, Brecht dikenal sebagai siswa yang bandel, bahkan dijuluki oleh gurunya sebagai Enfant Terrible.setamat SMA Brecht melanjutkan kuliah mengambil jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian Munich. Kuliahnya pun akhirnya gagal, karena ia tak pernah masuk, di samping suasana perang makin mencekam. Menurut kritikus sastra di jerman, Marcel Reich-Ranicki pada bukunya berjudul Nachprufung (Menguji ulang), bahwa karya drama Brecht sering di pengaruhi oleh latar Negara yang berbeda.
Misalnya, drama yang pertama kali diakui publik berjudul “Mann ist Mann” (Lelaki adalah Lelaki) terpengaruh latar india. Drama berlatar Rusia berjudul “Mutter” (ibu). Drama berlatar London berjudul “Dreigrochenoper” (tiga opera picisan), sedang drama berlatar Chicago berjudul “Heilige” Johanna (yohanna yang suci). Proses kreatif Brecht menurut Ranicki, ia tak hanya genius, namun juga bekerja cepat secara terus menerus. Naskah yang sudah jadi, sering kali dicoret dan dibuang. Bagi Brecht pementasan drama di panggung ibarat sebuah potret. Dan potret itu harus bisa dilihat penonton dengan sangat jernih. Sebab itu Brecht dikenal seorang dramaturgi yang jeli melihat setiap mimik, gerak tubuh, kata, serta sosok. Dengan kata lain pementasan di panggung harus seindah puisi. Drama menurutnya sebagai forum berdebat dan bukan sebagai tempat ilusi belaka.
Pada tahun 1920 ibu Brecht meninggal dan sejak itu ia pergi dari rumahnya serta menyewa apartement di Munich bersama Marianne Zoff, penyanyi asal sekotanya Augsburg. Pada tahun 1922 mereka kawin. Pada tahun 1923 pasangan ini dikaruniai anak perempuan bernama Hanne Marianne. Ketika anaknya meninggal, Brecht marah dan mengumpat, Ruh sudah turun dari Marianne Zoff…,sundel ini harusnya tak punya anak, anaku berasal darinya, tapi ia tak memiliki hati yang bersih. Pada tahun 1927 pasangan ini cerai. Zoff kala itu menjadi pemain drama terkenal. Tak hanya Goethe sebagai penyair yang digemari banyak perempuan hingga punya delapan pacar. Brecht pun demikian. Ia dikelilingi banyak perempuan. Salah satu yang memikat hatinya adalah, seorang perempuan Yahudi juga pemain drama bernama Helene Weigel.
Pada tahun1928 ia kawin dengan Weigel. Dua tahun kemudian pasangan baru ini mendapat seorang pasangan bernama Maria Barbara.
Brecht tergolong penyair dan dramaturgi yang sangat produktif. Beberapa naskah dramannya yang paling sering mendapat banyak pujian masyarakat luas berjudul Baal, Trommel in der Nacht (Genderang Malam), dan Dreigroschenoper (Tiga Opera Picisan), Lebendes Galilei (Kehidupan Galilei), serta Mutter Courage und ihre Kinder ( Ibu Courage dan Anak-anaknya). Akan tetapi Gerhard Szczesny pada bukunya berjudul Brecht, Leben des Galilei mengkritik Brecht, kalau Brecht telah membelokan alur kehidupan Galilei ke dalam kehidupannya sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)