Monday, June 28, 2010

Topogente

Latar belakang munculnya absurditas
Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis

“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).

Sekilas Tentang Absurd
Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd. Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal.
Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).

Analisis Naskah

Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.

Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah.

“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.


Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?” “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.”

Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).

Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang.

Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi. Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.



Struktur

Plot
Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:

Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)

Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:

Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….
................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6)


Karakter
Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:


Lelaki 1 : Psikologis: Tegas.
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Tinggi kurus.

Lelaki 2 : Psikologis: Mudah marah
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata
Fisiologis : Kurus.

Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan
Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.
Fisiologis : Kurus.

Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.


Tema
Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”
Tekstur

Dialog
Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:

Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5)

Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:

Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.
Lelaki 1 : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.
Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.
Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)

Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:

Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)

Suasana
Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.

Rangkuman

Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.




Spektakel
spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura.

Setting / latar
Waktu : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.
Tempat : Tanah lapang
Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.

Sinopsis
Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

M. Noerdianza

Pertunjukan Teater Sanggar Seni Kota Palu
Taman Budaya Cak Durasim Surabaya
Tanggal 24 Juni 2010 Jam, 20:00
Oleh: M. Noerdianza

Berangkat dari tulisan yang di muat dalam surat kabar harian Kompas Surabaya Jumat, 25 Juni 2010 pada kolom Humaniora halaman J mengenai pertunjukan Sanggar Seni Lentera Kota Palu dalam “Festival Negarakretagama” dengan judul “Jeritan Pembuat Batu Bata, Potret Kemiskian”. Mengupas tentang potret masyarakat yang setiap hari bergelut dalam pembuatan batu bata demi mempertahankan hidup dari berbagai tekanan kehidupan. Tingginya harga kebutuhan pokok hingga minyak tanah yang kerap kali lenyap di tengah masyarakat miskin. Hal ini setidaknya tersirat saat Sanggar Seni Lentera kota Palu Sulawesi Tengah mengusung lakon “Topogente” dalam pementasan seni pertunjukkan teater pra Festival Negarakretagama, kamis (24/6) di gedung Cak Durasim, Surabaya.
Pertunjukan seni teater yang diangkat berdasarkan naskah “Topogente” yang ditulis oleh Ashar Yotomaruangi, kata sutradara pementasan ”Topogente”, M. Noerdianza, terinspirasi realitas kehidupan pembuat batu bata yang hidupnya tidak pernah beranjak baik sepanjang kehidupannya. Bahkan suatu hari seorang pembuat batu bata yang bekerja dari pagi sampai sore hari meninggal dunia,” kata Noerdianza.
Seni teater sebagai ekspresi sekaligus eksplorasi ide gagasan, bahkan pemikiran kritis terhadap berbagai ragam persoalan hidup dan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat, seolah menemukan ruangnya saat pekerja seni teater Sanggar Seni Lentera kota Palu, Sulawesi Tengah, menyuarakan jeritan rakyat kecil dan miskin melalui potret kehidupan Topogente yang berarti pekerja tanah liat (pembuat batu bata).
Rajutan kisah Topogente dalam panggung teater yang dimainkan oleh tiga orang lelaki (Irwan Pangeran, Ipin dan Noerdianza/Toto) dan seorang perempuan (Ade fitri), sesungguhnya potret kemiskinan dari sebagian rakyat yang karena ketidakmampuannya mencari alternativ untuk memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya. Akibatnya, masyarakat terpaksa merusak lingkungannya dengan menghidupi dan keluarganya.
Nasib Topogente, sang pembuat batu-bata, adalah prototype kaum pekerja keras yang termarjinalkan oleh sistem yang ada. Realitas itu saat empat lelaki yang memerankan pembuat batu-bata harus pontang –panting mencangkul tanah, mengolah, mencetak, lalu menjemur dan membakar. Namun dalam bagian lain sebuah potret kepedihan muncul dan menggelayuti pekerja keras pembuat batu-bata yang terekspresikan melalui tiga orang lelaki yang memainkannya di atas panggung dengan apik. Ilustrasi musik gitar, gimba, kacapi, seruling dan vokal (lalove, alat musik tiup khas tanah palu, sulteng) yang di mainkan Paul Natsir, Izat, dan Kalsum menyertai setiap adegan yang diliputi suasana kepedihan dan jeritan atas nasib kaum pekerja keras kelurahan tatura, kota Palu.



Sementara surat kabar Seputar Indonesia (Seputar Surabaya) Jumat, 25/6/ 2010 hal. 11 “Topogente, Representasi Protes Marginalisasi.” Surabaya (S1) topogente merupakan kata dalam bahasa kaili, sebuah suku di Sulawesi Tengah. Kata ini berkaitan dengan cara membuat batu bata yang lazim dilakukan di daerah tersebut. Namun, topogente bukan sekedar cara, melainkan representasi sebuah marginalisasi kaum bawah. Cerita berjudul topogente dilakonkan teater Lentera Palu asal Sulawesi Tengah di gedung kesenian Cak Durasim, kemarin malam (24/6/2010). Alat topogente yang berupa papan dan kayu pelurus merupakan wujud kondisi para buruh kelas bawah yang nasibnya tidak pernah diperhatikan pemerintah. Kami mencoba membawa suasana para pekerja kasar kelas rendahan yang tidak pernah dilirik pemerintah. Upah kecil dan berbagai minoritas fasilitas membuat mereka jauh dari kesejahteraan, papar sutradara pementasan “Topogente” M. Noerdianza kemarin. Penggambaran minimnya taraf kehidupan para pembuat batu bata di angkat oleh keempat pemain dari teater Lentera Palu untuk melakukan penyaluran aspirasi sebuh suara bahwa saat ini kondisi buruh kelas bawah mengalami penderitaan yang seolah tiada akhir. Dari gerak tari dan berbagai bahasa tubuh yang ada, mereka menyampaikan kondisi mereka saat ini. Papan untuk membuat batu bata menjadi alat yang senantiasa hadir dalam setiap aktifitas yang digambarkan. Aktifitas tersebut mulai dari rapat di mana papan itu beralih fungsi menjadi papan tulis, lalu saat tidur papan berubah menjadi bantal, dan ketika seorang perempuan mengamuk papan itu terpaksa menjadi alat kekang. Pentas yang dipunggawani M. Noerdianza Kaili, Irwan Pangeran, Ipin dan Ade Fitri, ini berlangsung sekitar 30 menit. Pentas itu menampilkan berbagai kegiatan dan juga konflik antar pelakon. Ashar Yotomaruangi, penulis naskah, mengungkapkan bahwa cerita ini akan dipentaskan di dua kota, yakni Surabaya dan Kendari.

Sanggar Seni Lentera mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari para penonton yang hadir malam itu (24/6) di antaranya kaum pelajar, mahasiswa, pekerja pemerhati seni, seniman sampai dinas pemerintah setempat. Sampai sesi diskusi yang di gelar setelah petunjukan pun, hangat dengan saran, kritik, dan ucapan selamat. Mas Dodi Teater Mesin Surabaya memeberikan aplus terhadap Sanggar Seni Lentera Kota Palu, menurutnya pertunjukan Lentera tertata dengan rapih, penghadiran spektakel yang memukau penataan, Mas Obeng Teater API seniman Surabaya mengatakan Teater Lentera memiliki warna tersendiri dalam pertunjukannya dan Sasa Jurnalis/Markom Surabaya. Mengatakan penyutradaraan Topogente terstruktur, mulai dari bloking, komposisi, levelitas, kekompakan dan sampai apa yang ingin disampaikan.

Pertunjukan Sanggar Seni Lentera di Surabaya (Kota Pahlawan) tidak lepas dari dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak di antaranya Ketua Dewan Kesenian Palu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu, Ketua Seniman Peduli Narkoba dan Dra. Ince Rahma Borahima.

“Pakasalama Adata Pura” Tageline ini yang selalu mengantar sanggar seni lentera dalam setiap langkah perjuangannya dalam bergerak, maju dan menang.Salandoa Kami.

Thursday, February 25, 2010

Pertunjukan Teater

“Bos”
Karya Sutradara M. Noerdianza
Asisten Sutradara Dikson

Taman Budaya Kota Palu Sulawesi Tengah
3 April 2010. 19.30 Wita

Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian dalam pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.
SSL akan kembali berproduksi mementaskan karya sendiri yang tentunya berangkat pada budaya lokal dengan keberangkatan isu sosial sebagai teks diberi judul “BOS” naskah sutradara M. Noerdianza. Asisten sutradara Dikson. Sebagaimana yang kita pahami bahwa kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang dimana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.
Setiap individu mengalami pergulatan batin dengan dunianya yang memaksa manusia untuk bersikap dengan cara apapun demi mendapatkan apa yang menjadi kehendak. Sikap jujur adalah prioritas utama manusia dalam menyikapi kehidupan bermasyarakat. Bahkan sebaliknya sikap jujur hanya kolase semata, kecerdasan disalah gunakan hanya karena sebuah kepentingan. “Bos” mengkisahkan sekelompok masyarakat pemulung mengais rezeki di tumpukan sampah. Kehidupan modernitas mempengaruhi pola pikir manusia. Keinginan merubah hidup berakhir dengan penderitaan. Selalu saja ada hal-hal yang aneh, penuh dengan teka-teki yang sulit diterima logika.
Orang-orang sampah yang selama ini dianggap orang-orang yang terbelakang tentang segala hal. Tetapi di dalam lakon “BOS” ini, kisahnya tidak demikian. Cerita ini memutarbalikan fakta, bahwa peristiwa-peristiwa yang mereka ketahui dari koran-koran bekas yang ditemukan dijalan-jalan, dan tong-tong sampah menjadikan mereka para pemikir intelektual.
Bos mengkisahkan seputar realitas sosial kehidupan masyarakat pemulung di kota Palu yang menggambarkan peristiwa demi peristiwa sepanjang tahun 2000. Mulai di tahun 2005 sampai pada tahun 2010. Peristiwa tersebut dikemas sedemikian rupa kemudian menggabungkannya menjadi satu kesatuan hingga menjadikan alur dalam sebuah cerita, layaknya kolase atau seni tempelan. Peristiwa tersebut menyangkut kasus pelayanan rumah sakit yang lebih mengutamkan administrasi dari pada pasien, TPS, korupsi, kasus bank Century, teroris, berjudian, kasus narkoba, seni budaya, dan TKW sampai pada latar belakang sejarah kaili. Secara garis besar naskah “BOS” beraliran kontemporer . Teknik penggarapan dan gaya pemanggungan dibuat solah-olah realis.
Kontemporer berasal dari kata tempo atau waktu pada masa kini atau dewasa ini. Kontemporer tumbuh dan berkembang pada masa re-naisance. Dalam konteks pertunjukan, teater kontemporer kita temukan dalam lakon klasik. Seperti halnya di Negeri Eropa kita mengenal kisah cinta “Romeo dan Juliet”, “Oidipus”, di Indonesia kita mengenal cerita klasik wong Jowo “Roro mendut”, “Sampek Engtay”. Pada dewasa ini cerita klasik tersebut di rombak, memutar balikan fakta sesuai konteks kekinian, dan perubahannya bisa saja dilihat dari perubahan kostum, sett, properti, lakon, make up, pemeranan yang tidak lagi melihat latar belakang waktu, tempat dan peristiwa lampau melainkan peristiwa kekinian. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan, maka dalam kontemporer tidak ada pertanyaan yang terjawab secara otomatis, tidak ada gaya yang wajib dianut, tidak ada penafsiran yang selalu benar. Jean Paul sartre mengatakan bahwa manusia mendapat hukuman dengan hidup secara bebas. Dunia teater membebaskan sutradara berhadapan dengan hampir semua kehidupan tanpa batas, yang membawanya pada kegelisahan eksistensial yaitu kegelisahan yang mengerikan sebagai tantangan yang mendebarkan.
Realis adalah segala sesuatu yang nyata, segala sesuatu yang sama dengan realita. Aliran realis dalam seni, aliran yang menghasilkan karya seperti dalam realita kehidupan. Realita dalam kehidupan sehari-hari yang dialami oleh masyarakat lingkungannya. Namun bentuk dan media ekspresi dalam menghasilkan karya seni yang berbeda, menyebabkan penerapan realism dalam karya seni berbeda, antara karya seni satu dan lainnya. Realism dalam teater ialah untuk menciptakan sesuatu di atas panggung seperti “kenyataan” yang ada. Menciptakan ilusi kenyataan di atas panggung. Seolah-olah penonton menyaksikan apa yang terjadi seperti dalam kenyataan sehari-hari.
Sebagai seni kolektif yang tersusun atas 3 (tiga) komponen, seni teater mengalami banyak “hambatan” kendala, karena ketiga komponennya dapat mempunyai pendekatan yang sama atau “berbeda” ketiganya dapat menggunakan aliran yang sama, tetapi dapat juga salah satu komponen meng-ikuti “aliran yang tidak sama”.

Tuesday, February 2, 2010

Merpson Lokakarya Pekan Budaya dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah ke IX yang akan dilaksanakan di Palu 22-27 Juni bertempat di Palu Golden Hotel

Adapun yang dijadikan tanggapan pada tulisan ini,
Workshop Seni Pertunjukan
pada poin tiga
Workshop untuk guru-guru Kesenian baik tingkat SD, SMP, dan SMA.
Oleh
M. Noerdianza


Sebagai pecinta seni teater sangat mendukung adanya kegiatan ini. Sudah seharusnya kita memperkenalkan budaya kita kepada masyarakat luas, kalau bukan kita siapa lagi..? Tidak ada kata terlambat, kita tunjukan bahwa kita mampu berbuat melestarikan dan mengembangkan seni budaya di kota Palu Sulawesi Tengah, khususnya Indonesia dan umumnya pada dunia. Kita harus bersyukur dengan adanya klem Malaysia terhadap kesenian di Indonesia. Adanya klem tersebut membuka pikiran kita yang selama ini tertutup rapat hanya karena kepentingan individualisme, tanpa memikirkan betapa pentingnya pertumbuhan dan pelestarian seni budaya lokal, Begitu banyak gagasan-gagasan yang menarik dari Dinas Kebudayaan baik Kota maupun Propinsi. Tetapi untuk pengolahan manajemen pertunjukannya amburadul alias kacau. Kenapa hal ini terjadi? Ini sudah menjadi hukum alam siapa yang kuat dia yang dapat meskipun itu bukan bidangnya. Semoga saja masalah klasik ini tidak akan terjadi lagi.

Adanya Workshop guru-guru kesenan baik tingkat SD, SMP, SMA, para sarjana seni khususnya anak daerah diberikan tempat memberikan jasanya bagi daerahnya. Namun sebelumnya Teater sudah berbuat memberikan sumbangsih besar bagi daerahnya dengan mengadakan Workshop Teater Penyutradaraan dan Keaktoran dan waktu pelaksanaannya di bulan Oktober 2009 bertempat di Taman Budaya Kota Palu. Peserta workshop tersebut terdiri dari guru seni di tingkat SMA, Mahasiswa, Kelompok, Komunitas, dan Sanggar teater. Penulis kembali menandaskan workshop ini harus berkelanjutan tidak hanya sebatas workshop saja, melainkan semua peserta workshop penyutradaraan dan keaktoran diberikan ruang untuk berproduksi. Terlaksananya program berkelanjutan ini DKP bekerja sama dengan Dikjar, kemudian Dikjar memberi rekomendasi ke sekolah-sekolah bahwa DKP akan mengadakan Festival Teater Remaja (FTR). Semua peserta workshop penyutradaraan diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah dan menyutradarai langsung di sekolah tersebut. Peserta terbaik dari festival Teater Remaja (FTR) akan mendapatkan piala dan piagam serta piala bergilir dari DKP. Piala bergilir tersebut akan menjadi rebutan layaknya petinju merebut sabuk emas. Tetapi dalam FTR, proses kreatif dalam penggarapan pentas yang menjadi ajang pertarungan untuk mempertahankan atau merebut piala bergilir dari DKP adalah proses kreatif penciptaan karya seni melalui drama atau teater. Oleh karena itu FTR menjadi kegitan tahunan. Dan FTR mulai berjalan di tahun 2009 bulan November. Semoga FTR berkelanjutan.

Monday, December 14, 2009

“TONDATALUSI”

M. Noerdianza

“TONDATALUSI” adalah kata yang diambil dari bahasa daerah ciri khas suku Kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah, bahwa Tondatalusi tersebut memiliki makna yang terdiri dari tiga tungku mewakili Adat, Agama dan Pemerintahan, sebagai simbol ke-bersama-an menuju sebuah tujuan, yakni KEDAMAIAN.


Sistem Tradisional

Sistem tradisional atau pra modern, antara lain individu dan masyarakat tidaklah merupakan objek, tetapi subjek yang turut menentukan arah kehidupan.


Sistem Agama

Sistem Agama adalah sistem yang baku yang tidak bisa diubah agamalah dasar pijak kehidupan. Dan kebenarannya tak diragukan lagi.


Sistem Politik Modern

Sisim politik modern memiliki tiga unsur di antaranya Demokrasi, Konstitusional, dan Berlandaskan hukum. Demokrasi adalah kebebasan individu dalam berpendapat, Konstitusional ialah aturan dasar yang ditempu melalui kesepakatan. Sementara Hukum itu sendiri mewadahi perbedaan paham dan pandangan, dan mengatasinya dengan cara beradap dan damai, dalam aturan yang disepakati bersama.


Tradisi “Tondatalusi” dibenturan dengan realitas modern. Dalam masyarakat modern dasar atau keutamaan dari sistem sosial antarindividu telah melangkah jauh dari aturan-aturan dan hubungan antara satu dengan yang lainnya dan lebih bersifat impersonal menjadi lebih pre-dominan. Bahwa kebersamaan me-nampak-kan kesenjangan sosial semata-mata hanyalah khiasan belaka, bagai tarian kata yang di-curah-kan di dinding kloset. Duduk berak membaca tulisan sekitar lalu keluar dan me-lupakan-nya. Tidak ada lagi yang saling percaya, idelisme komunal kehilangan makna, dan sistem telah melangkah jauh dari bukti-bukti empiris (berdasarkan pengalaman dan penghayatan) Idealisme dalam penulisan ini tidak lagi menunjukkan sikap saling menerima atau menghayati antara satu dengan yang lainnya, hilangnya sikap saling menyokong sebuah perencanaan, semua ingin me-nunjuk-kan eksistensinya sendiri tanpa peduli siapa dan apa yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian kita tak dapat menyangkal bahwa kita tidak bisa lepas dari sistem-sistem yang telah dibuat dan telah disepakati bersama. Satu-satunya cara membuat sistem di dalam sistem, dengan sistem cinta

Proses kreatif
Beragkat dari selera tiap-tiap individu dikemas menjadi sesuatu yang mugkin menggelikan tapi itulah kejujuran. Layaknya anak-anak kecil sedang asik bermain mengeluarkan kata-kata “jorok” yang menyinggung perasaan tapi itulah kenyataan dari ke-polos-an seorang anak, tanpa menyadari apakah berdosa atau tidak ataukah menyinggung perasaan atau tidak. Pertunjukan ini bila disimak seperti tambal sulam membenturkan berbagai warna, gaya dan bentuk dalam seni teater layaknya pencampuran warna tanpa skala. Proses penggarapannya melihat kekurangan dan kekurangan itu bukan hambatan. Kami meyakini bahwa perbedaan itu suatu pengkayaan bukannya menjadi duri dalam daging.
Menjadi titik fokus bersama bagaimana pertunjukan itu sampai dengan penciptaan dialog ringan berisi kepolosan, tapi terkadang kepolosan jadi ejekan. Serta penghadiran gerak-gerak tubuh fisik yang terlihat kaku. Bagai gambaran hidup yang dilalui dengan kekakuan ………………………………………………………………………………………….?????????????

Orang Palu bicara tradisi Kaili

M. Noerdianza
Apa itu Palu?
Palu adalah sebuah kota tepatnya di Sulawesi Tengah, bukan Palu yang dipakai tukang kayu memalu paku. Saya pernah ditanya teman saya wong Jowo, nama aslimu siapa sih sebenarnya? Saya jawab Moh. Nurdiansyah, kok dipanggil Toto seperti nama orang jawa. Saya sendiri tidak tahu juga mas kenapa dipanggil Toto saya menjawab dengan ngawur dengan maksud menghibur mungkin sejak kecil sampai besar suka netek wakakak….teman saya tertawa. Awalnya nama saya Moh. Irfan mas, karena sakit-sakitan digantilah dengan panggilan Toto. Terus teman saya bertanya lagi, To aslimu nengdi? Saya jawab lagi. Palu. Teman saya itu tertawa lagi dengan ter-bahag-bahag saya bingung apa yang ditertawakan melihat teman saya tertawa saya pun ikut tertawa tanpa tahu sebab. Lucu ya To kata teman saya. Saya bertanya kenapa lucu? Ya jelas lucu besar di Palu lahir ditendang mati dibacok. Saya tersiggung dengan kata itu, sambil memperlihatkan senyum sinis. Tapi saya mengambil sisi positifnya menganggap bahwa ini awal dari sebuah keakraban hitung-hitung skalian memperkenalkan kepada mereka bahwa Palu itu ada di Sulawesi Tengah Bukan hanya Donggala yang mereka kenal. Saya merantau tidak ditendang tapi atas keinginan sendiri, sebab di Palu belum ada sekolah seninya mas. Jangankan sekolah seni keseniannya saja kurang mendapat dukungan. Kalau masalah mati itu urusan tuhan yang penting hubungan antar manusia berjalan dengan baik bersikap sopan dan santun. Jangan menimbulkan sesuatu yang memancing amarah. Teman saya itu diam sejenak seolah merasa bersalah iya..ya..To, betul juga kata pepatah mulutmu harimaumu, maaf ya To kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu. Ya sebab kata-kata itu doa astagfirullah…jawab kami berdua.
Eh..,ngomong-ngomong Kaili itu apa To?
Menurut tradisi lisan tumbuh di antara negeri Kalinjo dan Sigi Pulu. Begini ceritanya, sebenarnya keberadaan dan kebesaran orang di Kaili ada hubungan kisah epik I Lagaligo melalui tokoh Sawerigading. Ketika Sawerigading dari perjalanannya pulang dari negeri Cina untuk menemui perempuan yang dicintai dan dikawininya yang bernama Cudai, Sawerigading singgah di Ganti Ibukota kerajaan Banawa untuk bertemu dengan kerajaan Banawa. Ketika di Ganti itulah Sawerigading mendengar tentang negeri Sigipulu yang merupakan pusat Kerajaan Sigi yang dipimpin oleh seorang ratu yang cantik bernama Ngili Nayo. Berlayarlah Sawerigading menuju ke Kerajaan Sigi. Setelah memasuki teluk, dari kejauhan Sawerigading melihat pepohonan yang tinggi menjulang di sebelah Timur Teluk, ketika Sawerigading singgah di pelabuhan Sombe, Sawerigading memperoleh keterangan dari masyarakat di sekitar pelabuhan itu, bahwa pepohonan tersebut adalah pepohonan Kaili. sejak itu, para pelaut menyebut, Teluk Palu adalah Teluk Kaili dan masyarakat yang mendiami Lembah Palu dan sekitarnya disebut To Kaili. Itu sekilas tentang sejarah Kaili.
Tapi kenyataannya bukan demikian, bukan kisah tutur yang diceritakan terun temurun dari ayah kepada anaknya, bukan cerita dongeng yang menina bobokan kita, bukan juga cerita mitos atau pun legenda. ini realistis.
Ciri khas daripada watak seseorang bisa dipelajari dengan melihat latar belakang sejarahnya kawan. Tapi sayang pohon kaili tidak ada lagi sekarang punah tidak ada bibit-bibit, tidak ada generasi-generasi lagi, hanya itu-itu saja. yang lain entah di mana. Begitu juga dengan pohon Silaguri, simbol dari ketahanan dunia menurut mitos pohon Silaguri itu sangat besar sampai-sampai tiga orang yang berjejer berpegang tangan memeluk pohon itu tidak sampai juga. Bayangkan bagaimana besarnya, tapi sekarang besarnya se-kelingking. Hidup Itu kan penuh dengan tanda. Begitu banyak putra putri daerah yang berkwalitas tidak diberdayakan malah dipersulit. Padahal Otonomi Daerah sudah ada sekarang. Dulu dengan sekarang sama saja beda-beda tipis. Kalau dulu pejuang-pejuang kita yang melawan belanda, banyak yang diculik dibunuh dan ada juga yang dibuang ke tanah Jawa. Nah kalau zaman sekarang, dibunuh dengan cara halus, contoh kasus mau urus apa saja dipersulit itu sama saja membunuh harapan secara halus. Akhirnya terbuang, di deker-deker dan trotoar jalan.
Apakah ada tradisi leluhur di Palu To?
Ya..,jelas adalah no namanya Raego. Konon kabarnya, dahulu kala ada seorang petani yang sedang berburu di tengah hutan mendengar suara-suara melengking yang bersahut-sahutan. Ketika petani itu mencari sumber bunyi tersebut, dia terkejut melihat segerombolan rusa jantan dan betina sedang melakukan gerakan-gerakan yang ritmis serta se-sekali menghentak-hentakkan kaki mereka ke tanah, sambil mengeluarkan suara-suara melengking yang bersahut-sahutan. Dari gerakan rusa-rusa tersebut tarian ini diadaptasi dan ditirukan oleh masyarakat suku Kulawi Di kalangan masyarakat suku Kulawi, tarian ini dibawakan secara berpasangan membentuk setengah lingkaran atau satu lingkaran, di mana pria meletakan tangannya pada bahu wanita (mo mi olo). Tarian ini tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring, tetapi mengandalkan alunan syair yang dinyanyikan oleh wanita (no wama) lalu dibalas oleh pria yang mengeluarkan suara-suara melengking (no wuncaka). Isi syair dalam tarian ini dibawakan sesuai dengan pesta adat yang sedang berlangsung.

Petama-tama seorang pria melantunkan sebuah syair (no timbeka) lalu diikuti oleh para pria lainnya (no umpui). Selanjutnya syair tersebut dibalas oleh seorang wanita (no wama). Tarian ini semakin riuh oleh lengkingan suara para pria yang bersahut-sahutan (no wuncaka). Pada bagian-bagian tertentu dalam tarian ini, para pria akan menghentak-hentakkan kaki mereka ke tanah (no haita) dan wanita menekukkan lutut mereka (no odu). Dalam tarian ini hanya seorang wanita saja yang berperan sebagai pelantun syair, sedangkan wanita yang lain hanya melakukan gerakan-gerakan ritmis saja. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa tarian ini tidak

menggunakan alat musik sebagai pengiring. Hal ini berarti bahwa tarian rego muncul ketika masyarakat suku kulawi belum mengenal alat musik. Saat ini sangat jarang generasi muda suku kulawi yang mengetahui tarian ini, sehingga jika tidak dilestarikan, dikhawatirkan suatu saat nanti tarian ini akan punah.

Raego itu apa?
Raego merupakan upacara ritual adat, yakni puji-pujian kepada Sang Pencipta. Puji-pujian tersebut di antaranya meminta keselamatan agar terhindar dari segala macam bencana (tolak bala), Upacara ritual adat Raego biasanya dilaksnakan pada saat sebelum dan sesudah panen. Raego juga sebagai spirit untuk menghantar para Tadulako ketika akan berangkat perang.

Kenapa gerakkan tari Raego terus-menerus berfokus pada kaki yang menghentak bumi?
Secara filosofis membangunkan benih-benih tanaman agar subur. Masyarakat adat setempat percaya bahwa segala unsur yang ada di alam ini bersemayam roh-roh leluhur, hentakan kaki sebagai penanda untuk memohon kepada tupu tana (penghuni tanah) agar diberikannya kesuburan terhadap benih-benih tanaman.

Ada juga upacara adat namanya Balia

Pengobatan tradisi Balia yang terdapat di daerah Sulawesi Tengah tepatnya desa Pakuli. Provinsi Sulawesi Tengah adalah salah satu daerah yang kaya dengan pengetahuan dan kearifan lokal. Salah satu di antaranya banyak kearifan lokal tersebut adalah keberadaan sistem, pranata dan tata cara pengobatan tradisional. Sistem ini tumbuh dan berkembang ratusan tahun silam, dijalankan sebagai suatu metode bertahan hidup dan solusi atas permasalahan kesehatan yang mereka hadapi sehai-hari. Dalam sistem pengobatan tradisional inilah kita mengenal istilah sando, yakni sebutan yang diberikan kepada seseorang yang dianggap menguasai keahlian mengobati penyakit. Dalam bahasa kaili, salah satu bahasa lokal tertua di provinsi ini, sando berarti orang yang dikaruniai kemampuan menyembuhkan penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.

Salah satu daerah kantong sando yang paling penting di provinsi ini adalah desa Pakuli, sebuah desa di kecamatan Gumbasa, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Di desa yang sebagian wilayahnya berada di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Desa ini juga kaya dengan aneka tanaman yang biasa juga menjadi bahan baku obat-obat tradisional. Istilah “pakuli” sendiri dalam bahasa Kaili berarti “obat”.

Keahlian mengobati berbagai penyakit ini mengantarkan sando pada strata sosial dan status budaya yang tinggi dikalangan masyarakan. Mereka sangat dihormati, dan sering dijadikan panutan bagi anggota masyarakat lainnya. Bercengrama dan berkunjung menemui penduduk yang menjadi pasiennya adalah salah satu pekerjaan rutin sando di samping obat-mengobati. Itulah sebabnya secara emosional hubungan mereka dangan masyarakat sangatlah dekat.

Di samping keahliannya mengobati penyakit, sando dipandang sebagai seorang pemuka adat, karena mereka juga biasanya sangat menguasai tata cara dan pranata adat, terutama pranata adat yang berhubungan dengan praktek pengobatan. Mereka diposisikan sebagai pelindung karena kemampuannya memediasi dan berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Lebih dari sekedar hubungan fisik antara manusia, interaksi antara masyarakat, sando dan roh-roh leluhur lebih menampakkan satu bentuk kesatuan religiositas yang berpern penting dalam memantapkan kehidupan pribadi sekaligus mengenalkan ikatan sosial di antara mereka.


Kapan biasanya upacara adat Balia dilaksanakan?

Biasanya diadakan pada saat memperingati hari besar kepahlawanan, kemerdekaan, kenabian, dan sebagainya. Adat disebut dengan upacara, yakni tanda-tanda kebesaran. Adat adalah sesuatu yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala hingga menjadi tradisi. Maksud tradisi tersebut, yaitu kepercayaan, kebiasaan, ajaran yang turun-temurun dari nenek moyang.

Balia terbagi menjadi dua suku kata “bali” dan “ia”. “Bali” berasal dari kata kembali. ”ia” menunjukkan diri si penderita, secara etimologis atau asal kata arti dari Balia, yakni kembalikan ia layaknya seperti semula. Dalam upacara Balia para peserta di wajibkan menggunakan atribut seperti siga pakaian adat bercorak kuning, atau putih, Buya Mbesa dan perangkat upacara ritual seperti Guma, Kaliavo, Tampi, Gimba, Lalove, dan Pingga Putih. Bentuk dominan upacara ini adalah No Taro, Gimba dan Lalove. Dan dade-dade, yang berisikan gane-gane.
Topo Taro

Peserta upacara akan terus menari hingga semuanya mengalami trance, kerasukan roh leluhur yang mereka sebut No Taro. Upacara biasanya diakhiri dengan penyembelian hewan, sebagai simbol persembahan atau tebusan atau kesalahan yang dilakukan oleh si penderita atau keluarganya. Besarnya kesalahan atau penyakit yang diderita oleh seseorang, itu dapat kita lihat dari besarnya hewan yang akan disembelih, dari ayam, kambing, sapi atau kerbau.

Setiap daerah memiliki kepercayaan terhadap tradisinya, yang diberikan secara turun-temurun dari ayah kepada anaknya. Mempertahankan tradisi leluhur dan menjaganya sebagai warisan tidak lain sebagai penanda ciri khas daerah tertentu. Dari tradisi tercipta gaya berbahasa, tingkah laku, sopan, santun dan sebagainya. Masyarakat adat percaya apabila melanggar aturan adat akan terus-menerus mendapat musibah. Di Provinsi Sulawesi Tengah kabupaten Donggal tepatnya desa Pakuli memiliki satu kepercayaan terhadap penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh ilmu kedokteran dan satu-satunya jalan yang ditempu melalui pengobatan tradisi Balia. Masyarakat setempat percaya bahwa penyakit yang diderita oleh si penderita adalah penyakit yang diakibatkan oleh gangguan mahluk halus atau roh leluhur, karena dianggap telah melanggar larangan adat atau tidak menghargai alam tempat di mana mereka tinggal.

Upacara no Balia diikuti paling sedikit tujuh orang to po Balia dan pemangku adat. Yang menjadi to po Balia yakni mereka yang dianggap bersih dari hadat kecil dan hadat besar, tujuannya agar roh halus yang dipanggil melalui mantra-mantra yang diucapkan Ntina Nubalia dengan mudah merasuki tujuh to po Balia. Mereka yang dirasuki ada hubungan keturunan, pertemanan, atau kembaran dari roh tersebut, to po Balia diistilahkan sebagai perahu yang digunakan sebagai perantara. Upacara Balia dilakukan di lapangan terbuka tepatnya di malam hari sampai menjelang pagi, upacara Balia dilakukan sehari semalam bahkan berturut-turut selama tiga hari tiga malam, tergantung penyakit yang diderita oleh si penderita.


To po Gimba
Dalam upacara Balia seseorang yang mengiringi topo taro dengan alat musik gendang dinamakan to po gimba. Ada tiga jenis pukulan yang sering digunakan untuk mengiringi para to po taro, di antaranya “Dudumpaku” jenis pukulan ini untuk memanggil roh. “Sarondayo Ri Batana” pukulan transisi sebelum mencapai trance. “Kancara Tampilangi” pukulan atau tempo cepat ketika to po Taro mencapai trance.

To po Lalove
To po lalove dalam upacara balia, yakni seseorang yang menggunakan alat musik tiup yang dikenal dengan suling, terbuat dari bambu, panjang kurang lebih 80 cm, teknik dan cara meniup alat musik tersebut layaknya orang meniup bara api, sehingga bunyi yang terdengar tidak terputus. Masyarakat setempat percaya bahwa alat musik ini digunakan untuk memangil roh halus, di tempatkan dalam kamar ukuran 1x1, diberi menyan atau dupa dan dibungkus dalam kain berwarnah merah atau kuning, pada hari-hari tertentu alat tersebut dikeluarkan dari tempatnya dengan syarat membaca mantra-mantra. Jenis bunyi atau irama yang dimainkan dalam alat musik lalove ini dinamakan Pantete Nabi, yakni memanggil dan mengeluarkan roh leluhur yang merasuki para to po taro.

Wah.., sayang ya kalau tidak dikembangan kata teman saya. Itu dia. Sebenarnya sudah sih, tapi apa dikata pemerintahnya saja kurang mendukung. Mereka yang tahu sejarah Kaili saja bisa dihitung dengan jari. Kenapa harus berharap dengan pemerintah? Pemerintah juga punya andil memelihara mas, apalagi mereka sebagai perwakilan daerah mau tidak mau memberi dukungan baik moril maupun materil. Saya bukan orang tradisi murni mas, saya lahir dan hidup dilingkungan modern tapi setidaknya kita haus tahu latar belakang tradisi kita sendiri, bukannya memanfaatkan tradisi demi satu tujuan. Wah..ngomong-ngomong tradisi tidak akan pernah selesai mas. Sampai sini dulu ya! Kapan-kapan kita sambung lagi.

Saturday, December 12, 2009

Workshop penyutradaraan

M. Noerdianza



PENGERTIAN SUTRADARA

Apa itu sutradara ?

1.Orang Yunani menamakan sutradara sebagai didaskalos yang berarti “guru”. Maksud dari guru tersebut, yakni seseorang yang lebih dulu memiliki pengetahuan pada bidangnnya, pengetahunnya itu diberikan kepada orang yang dianggap belum memahami. Namun terkadang pengajar-pengajar seni drama/teater ditingkat SMP, SMA, Bahkan tingkat Kampus kurang mendalami secara spesifik bagaimana mengemas sebuah pertunjukan drama/teater yang memiliki nilai estetik, tentunya dengan melalui pengamatan dan pengejaran kebenaran tidak hanya sebatas khayalan. Berbicara drama dan teater adalah satu kesatuan antar unsur seni. Sekali saja kita berbuat kesalahan selamanya penonton tidak akan mempercayai lagi setiap garapan yang akan dipentaskan. Makna dan tujuan drama/teater, adalah jujur dalam pekataan, ikhlas dalam perbuatan, sabar dalam cobaan, tegas dalam tindakan.

2.Sutradara menurut Russel J.Grandstaff adalah para penerjemah, para guru dan seniman-seniman kreatif. Kemampuan mereka dalam menangkap keberadaan orang lain harus jeli. Rasa tanggung jawab kepada penulis naskah dan kepada penonton harus tulus. Dengan kebajikan pengalaman dan latihan-latihan, mereka memiliki keterampilan-keterampilan organisasi dan pengetahuan vokal sebagai bagian dari keahlian menyutradarai.

3.Nano Riantiarno mengatakan bahwa sutradara harus mampu memimpin dan mengarahkan semua bagian menuju kepada sebuah tujuan. Maksud dari semua bagian tersebut, yakni


4.Berbeda pula tanggapan sutradara yang dikemukakan Harymawan. Sutradara sama halnya dengan karyawan yang mengkoordinasi segala unsur teater dengan paham, kecakapan, serta daya khayal yang inteligen sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil. Seperti yang kita ketahui bahwa Karyawan adalah pekerja. Pengertian karyawan di sini sama halnya dengan seorang sutradara yang memiliki wewenang terhadap segala unsur yang terkait erat dengan produksi teater.


Mengapa dinamakan sutradara?
Karena Ia yang mengatur dan mengkoodinir segala unsur seni yang terkait erat dengan produksi teater, yakni:

Naskah
Sebuah hasil dari bengamatan, penglihatan, pendengaran, perasaan, kemudian dihayati dan resapi di renungkan kembali, lalu dituangkan menjadi sebuah karya tulis.

Aktor
Seseorang yang memerankan karakter tokoh menghidupkan karya tulis melalui tubuhnya.

Tempat
Sebuah ruang di mana proses latihan berlangsung dan di mana pertunjukan di laksanakan.

Penata Panggung
Merancang/menata ruang pertunjukan

Penata lampu
Selain sebagai penerang berfungsi sebagai penanda suasana

Penata kostum
Merancang kebutuhan pakaian pemain
Penata make up
Melukis wajah pemain sesuai dengan karakter tokoh

Penata musik
menghidupkan suasana permainan,

Sutradara ibarat seorang ayah yang selalu memperhatikan keluarganya dengan penuh kasih sayang dalam suka maupun duka, apa bila lalai mengatur rumah tangganya akan menyebabkan pertengkaran bahan berakhir dengan perceraian. Begitu pula tehadap sutradara dengan para aktornya, apabila gagal mengatur pemainnya, akan berakhir kegagalan dalam pementasan. Untuk itu dibutuhkan kecerdasan intelektual. Maksud dari kecerdasan intelektual tersebut, yakni kecerdasan pikir terhadap situasi dan kondisi ketika proses berjalan. Sutradara tidak cukup hanya dengan mengatur dan mengkoordinir saja tetapi ia harus mempelajari psikologi dari tiap-tiap pemainnya. Ayah yang baik memahami psikologis anaknya, begitu pula sutradara. Ayah yang baik memberi kebebasan terhadap apa yang menjadi keinginan anaknya, dalam hal ini masih bersifat positif, apabila terjadi kekhilafan seorang ayah berhak menegur. Sama halnya sutradara memberi kebebasan kepada aktornya melakukan pencarian bentuk terhadap karakter tokoh dengan ketentuan tidak lepas dari konsep awal sutradara. Apabila bergeser dari konsep yang ada maka sutradara harus meluruskannya.

Siapa saja yang bisa menjadi sutradara?
Siapa saja bisa menyutradarai asalkan Ia merasa dirinya mampu.

Kapan munculnya sutradara?
Pada zaman Yunani Purba, pergelaran secara langsung dibawakan atau dipimpin oleh penulis naskah. Pada zaman abad pertengahan, ada yang disebut Metteur du jeu atau pemimpin permainan yang bertugas mengkoordinir pertunjukan. Pada zaman Shakespeare sampai akhir abad ke 19, pergelaran teater dipimpin oleh Aktor Manager. Tetapi pada zaman modern, seringkali seorang sutradara merangkap menjadi pemain utama. dan sebagai akibat dari kondisi semacam ini, perhatian sang sutradara biasanya lebih tertuju pada peranannya sendiri sebagai aktor daripada sebagai sutradara. Cohen (1983) mengatakan bahwa sebenarnya kerja penyutradaraan telah ada seiring dengan kemunculan teater, namun tidak ada seseorang yang dianggap sebagai sutradara seperti istilah sekarang yang kita miliki.

Dimana munculnya sutradara…..?
Merujuk pada pengertian Cohen bahwa sutradara telah ada seiring dengan kemunculan teater, sebagaimana yang kita ketahui asal mula drama dan teater berawal dari upacara persembahan. pada orang Yunani percaya apabila bencana datang terus-menerus menandakan dewa Dionysius mulai murka, ketika masa kesuburan datang, itu menandakan dewa Apollo melindungi tanaman mereka dari bencana. Dalam upacara persembahan tersebut, dibutuhkan seseorang yang dipercayakan mampu mengarahkan dan mengatur segala kebutuhan upacara. Seseorang yang dianggap mampu mengatur itu adalah pemimpin.

Bagaimana cara kerja sutradara?
Pertama-tama memilih atau menulis naskah, kemudian membaca naskah, setelah itu melakukan analisis terhadap naskah. Menganalisis naskah terdiri dari dua bagian, yakni analisis struktur dan tekstur naskah.

Struktur
Untuk mengkaji beberapa aspek yang terkandung dalam teks dibutuhkan pengkajian dari penemuan data yang nampak secara visual. Gorge Kernodle menulis bahwa untuk memahami teks lakon, terlebih dahulu harus menganalisisnya untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik. Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.

Plot/alur ceritra
Terdiri dari awal, tengah, dan akhir. (awal, klimaks, dan ending).
Flash back (alur mundur)
Alur maju
Muzaik /kolase/ zig-zag (kejadian sekarang flash back, kejadian sekarang)
Sirkuler (melingkar)

Karakter/watak tokoh
Karakter tokoh dapat ditemukan melalui pengamatan terhadap dialog-dialog yang terdapat dalam naskah.

Tema
Tema sama halnya dengan fondasi bangunan rumah, sebagus apapun rumah tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Pemaknaan fondasi adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa tema. Harymawan menggunakan kata premise yakni rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menunjukkan arah tujuan cerita, ditinjau dari pelaksanaan merupakan landasan pola bangunan lakon.

Tekstur
Lakon merupakan pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir lakon terlebih dahulu memahami tekstur. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.

Dialog
Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama. Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Untuk memahami naskah sutradara membaca naskah berkali-kali, kemudian memaknai maksud dari tiap-tiap kata yang terdapat dalam kalimat setelalah itu memilih diksi (gaya berkata). pengucapatan intonasi (tekanan nada suara), artikulasi (pengucapan kata-kata yang jelas), Adapun tujuan Haupttext dan Nebentext untuk mempermudah sutradara serta pemainnya menganalisis lakon.
Mood adalah suasana.
Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik. Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya.

Spektakel
Melalui pencermatan teks dalam lakon serta penataan artistik dapat kita temukan spektakel yang tersembunyi di dalam lakon. Adapun makna dari kejelasannya dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. Spektakel adalah suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel terdiri dari kostum, penataan cahaya, tata rias, tata busana. Spektakel atau mise en scene berarti sebagai berikut: Spektakel adalah gerakan atau tindakan fisik seorang tokoh yang berlangsung di atas panggung, tentunya melalui aktor untuk menyampaikan pikir dan rasanya. Spektakel digunakan sutradara dan untuk menyusun tindakan secara fisik dan keaktoran bisnis tokoh, keluar masuk aktor, pengelompokkan aktor, memilih kostum dan rias, dan memilih ruang panggung sesuai dengan penafsiran lakon. Spektakel adalah ruang visual yang disimbolkan melalui suara atau unsur pemanggungan lainnya. Spektakel dapat digunakan untuk meyakinkan tindakan tokoh melalui skeneri, tata lampu, permainan aktor, tata kostum yang tepat. Spektakel dapat membantu diksi mengungkapkan cerita. Spektakel dapat lebih meyakinkan dibanding dengan kata, karena dibantu oleh penyutradaraan, keaktoran, dan penataan artistik.

Menggali latar belakang pengarang

Biodata pengarang

Latar belakang tempat/waktu/peristiwa

Waktu: Tahun kejadian
Tempat: Terjadi di mana
Peristiwa: Kejadian apa yang terjadi pada saat itu.

Analisis tokoh

1. Psikologis (latar belakang kejiwaan)
- Mentalitas, ukuran moral/membedakan antara yang baik dan tidak baik.
- Temperamen, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan kelakuan
- IQ. (intelligence Quotient), tingkat kecerdasan, keahlian khusus dalam
bidang-bidang tertentu.

2. Sosiologis (latar belakang kemasyarakatannya)
- Status social
- Pekerjaan, jabatan, peranan di dalam masyarakat
- Pendidikan
- Kehidupan pribadi
- Pandangan hidup, kepercayaan, agama, ideologi.
- Aktivitas sosial, organisasi, hobby.
- Bangsa, suku, keturunan.

3. Fisiologis (ciri-ciri badani)
- Usia (tingkat kedewasaan)
- Jenis kelamin
- Keadaan tubuhnya
- Ciri-ciri muka dan sebagainnya.


Artistik Terdiri dari:

Lampu
Kostum
Make up
Set Panggung

musik


TEATER SEBAGAI ORGANISASI
Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; di mana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapi, dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti halnya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (panitia produksi) maupun segi seni-seninya (penyutradaraan, penataan set, permainan, musik dan unsur-unsur lain). Berikut ini contoh elemen dari sebuah grup teater dalam mengadakan sebuah produksi.
- Pimpinan Produksi
Mengatur semua tim produksi menanyakan kendala-kendala dilapangan, apabila terdapat kendala di lapangan pimpinan produksi segera mengambil keputusan dan memberi jalan keluar langkah-langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.

- Sekretaris Produksi
Berurusan dengan surat-menyurat.

- Keungan Produksi / Bendahara
Memegang seluruh dana produksi dan mencatat keluar masuknya dana produksi.

- Urusan Dokumentasi
Pengadaan Photo
Pengadaan Camera

- Urusan Publikasi
Menyebar Panflet
Menyebar undangan kesurat kabar, atau siaran radio

- Urusan Pendanaan
Menyebarkan proposal keinstansi terkait

- Urusan Ticketting atau karcis
Menjual ticket

- Urusan Kesejahteraan
Menyediakan konsumsi untuk pekerja

- Urusan Perlengkapan
Pengadaan peralatan sekretariat

- Art Director / Pimpinan Artistik
membawahi dan mengontrol beberapa tim produksi, yakni
Penata panggung, penata musik, penata kostum, penata make Up, dan penata musik.

- Stage Manager/Manajer Panggung
Menetukan tempat
Pengadaan kelengkapan kebutuhan set
Mengatur para pemain ketika gladi kotor dan gladi bersih
Menentukan jadwal dan jam pemakaian panggung
Mengatur sirkulasi pemain di belakang panggung
Menentukan pembagian tempat pemain di bagian kiri dan kanan panggung. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tertukarnya hand prop serta kostum
Menentukan kapan pertunjukan akan dimulai.
Saat pertunjukan berakhir memeriksa kembali ruang make up dan tempat-tempat lainnya siapa tahu ada barang yang tertingal.
Mengatur keluar masuk penoton

Cruw Panggung.
pekerja panggung yang medekorasi panggung

Setiap elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai contoh seorang urusan pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (pemeran, cahaya, bunyi-bunyian, set panggung, make up, kostum, dan lain-lain). Jikalau kita memandang elemen dalam grup teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”.
Tahap perancangan sutradara

1.Memilih atau menulis naskah
2.Menganalisis naskah
3.Membuat konsep
4.Membuat jadwal latihan
5.Menentukan tempat latihan
6.Mengumpulkan pemain dan tim artistik.
7.Memimpin latihan
1.Reading
2.Memilih pemain
3.Menentukan watak
4.Menentukan irama permainan
5.Menentukan blocking atau garis pemain
6.Mempertimbangkan keseimbangan panggug
7.Penciptaan komposisi
8.Levelitas
9.Teknik muncul

Tahapan ini merupakan tahapan penggalian sekaligus pencarian bentuk dan warna.
Catatan penting bagi sutradara ketika praktek berjalan

1.Sutradara mampu mengatur kecerdasan emosinya.
2.Bersikap bijak setiap menyikapi persoalan.
3.Bersikap terbuka menerima segala masukan, berani mengambil keputusan
tentunya dengan berbagai pertimbangan.
4.Memahami psikologis tiap-tiap aktornya.
5.Mampu membaca suasana apabila situasi pemain mengalami kejenuhan.
6.Selalu menciptakan suasana yang harmonis kepada seluruh tim produksi. bila
perlu bersikap humoris.


Tahapan Pementasan.
Pementasan merupakan hasil akhir dari sebuah penciptaan pemanggungan, keberhasilan seorang sutradara dalam mengelola segala unsur penciptaan teater akan tampak pada saat pementasan.